Rabu, 26 April 2017

MEMAHAMI

Pagi kemarin
“Nak, Ibu sudah menyadari. Tidak mungkin kita terus meratapi kepergian seseorang,” ujar suara wanita tua keluar dari speaker phone seseorang. “Terpenting sekarang bagaimana kita membantu dua anak kecil itu tumbuh dewasa dan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya layaknya impian saudara kita.”
Gadis yang mendengarkan pun tersenyum. “Maafkan Ibu pula Nak, selama enam bulan ini mengacuhkanmu, tak mau mendengar keluh kesahmu. Andai engkau tidak menangis kemarin ketika akan kembali bekerja maka mungkin Ibu akan tetap seperti kemarin,” lanjut wanita tua itu. “Berjanjilah Nak, untuk selalu semangat meraih cita-cita dan impianmu. Jangan pernah lelah untuk menjadikan diri bermanfaat. Kamu jangan pernah lemah Nak pula Ibu tidak akan lemah untukmu. Ibu kuat karena kau selalu terlihat tersenyum dan semangat dalam meraih cita-citamu.”
Gadis itu pun menitikkan air mata. Selang beberapa menit dalam diam kemudian berkata. “Tidak, Ibu tidak pernah sekalipun mengacuhkanku. Itu adalah proses agar aku lebih dewasa. Agar aku bisa seperti Ibu. Menjadi orang yang tegar dan kuat, Ibu yang menjadi madrasah anak-anaknya, dan seorang istri yang menjadi pelabuhan terbaik suaminya,” kata gadis itu. “Aku akan terus berjuang Ibu. Untuk cita-cita dan impianku.”
“Iya Nak, teruslah berjuang dan teruslah meminta pada Allah. Pasti dia akan memberikanNya.”
Seringkali kulihat pedih di mata wanita tua itu
Tapi selalu pula berusaha tertawa di depan sang gadis
Pula sang gadis
Kadang dia ingin menangis sekeras-kerasnya
Namun hanya bisa menahan
Padahal mungkin keduanya sama-sama tau perasaan sesungguhnya
Sungguh ikatan Ibu dan anaknya dibuat seindah itu oleh Allah
Besar sekali nikmat Allah

4 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OUR MESSAGE TO BWF: DON'T PLAY A ROLE AS A VICTIM AND PLEASE FIX YOUR SYSTEM

The controversy of the NHS and BWF decision to withdraw the Indonesian Badminton Team from participating in All England 2021 makes Indonesia...