“Aku sangat takut
mencintaimu karena perbedaan yang sangat jauh antara kita. Bukan karena
kekayaan, kaya itu bisa diraih. Bukan karena ketampanan dan kecantikan karena
keduanya bisa dipoles. Tapi, karena keyakinan. Aku sangat taat dengan cintaku
pada Tuhanku, begitupun dengan dirimu. Bagaimana mungkin ketika keyakinan kita
berbeda maka kita akan menyatu dalam kasihNya? Bagaimana mungkin cinta yang
indah itu bisa mengalir dalam keberbedaan seperti ini?” ujarku sambil menangis
melihatnya. ”Seperti apapun besarnya cintaku padamu namun ketika hal ini
mengusik alam bawah sadarku maka aku pun harus mengikuti intuisiku. Mencintaimu
tanpa ada ikatan, dalam hatiku kuperbolehkan. Namun, mencintaimu seperti itu
lama kelamaan juga akan membuatku sakit hati sendiri karena nantinya kehidupan
kita yang akan tersakiti. Maafkan aku…”
“Aku sangat memahami
apa yang kau ucapkan … Tapi, mengapa hatiku terasa sakit dan terasa seperti
ingin sekali menangis. Mengapa aku ingin menyalahkan takdir yang membuatku
berbeda denganmu. Sebuah perbedaan mendasar yang membuatku harus terpisah
secara hati denganmu, perbedaan yang membuatku harus terpisah ketika kita telah
berakhir di dunia ini. Aku ingin marah pada Tuhan!!!” ujarnya berteriak.
Aku hanya diam kemudian
mendekatinya yang terduduk menangis. Dia terlihat sangat terpukul dengan
kenyataan ini. Sebenarnya aku pun juga sangat terpukul bahkan sangat terpukul
tapi sebagai seorang muslim aku hanya bisa mengatakan “maaf aku tidak bisa menerimamu karena aku mencintai agamaku melebihi
cintaku padamu. Dan aku bangga dilahirkan dari Rahim seorang muslim.”
Namun, dengan sangat berat aku tidak mengatakannya. Aku hanya berusaha
menghargainya karena itu akan menyakitkan dirinya. Aku juga tidak tega
mengatakan hal itu. Tidak tega itu tidak hanya karena dirinya tapi juga pada
diriku yang sangat mencintainya.
Aku berusaha memegang
pundaknya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan namun aku hanya berusaha
menenangkan hatinya dengan cara seperti itu. Saat itu pula aku mengatakan dalam
hatiku “Tuhan…jika Kau jodohkan dia
denganku maka rubahlah dia seperti yang Kau mau yang pastinya pantas untukku.
Dan jika dia bukan kau ciptakan untukku maka buatlah dia dan diriku kuat
menghadapi kenyataan pahit ini. Aku mencintainya Tuhan, tapi jika memang itu
jalanku maka aku juga yakin nantinya aku akan mendapatkan yang lebih baik
darinya dan dia mendapatkan yang lebih baik dariku.” Tiba-tiba pula tetesan
air mata yang begitu deras tidak bisa kutahan dan kumenangis dalam perasaan
yang kubuat sendiri. Berusaha menenangkannya, kuhapus air mata yang mengalir
dari mataku.
“Buatlah dirimu tenang
dan terlihat kuat di mata semua wanita. Jika memang ini jalan kita berdua maka
jalanilah. Jangan kau buat hatimu bersedih dan diriku bersedih. Terimalah,
menangislah sekarang dan segeralah berpikir tenang dan lanjutkan kehidupan
indah yang diberikan Tuhan untuk kita masing-masing. Ini adalah pengalaman
hebat yang diberikan Tuhan pada kita.”
Dia hanya diam dan
berusaha menahan air mata tangisan. Dia kemudian menoleh padaku, “Aku tidak
pantas mengatakan kemarahanku kepada Tuhan. Aku tidak memiliki hak atas hal
itu. Tapi, aku bersyukur juga kepada Tuhan karena aku pernah dipertemukan
denganmu. Aku benar-benar mencintaimu. Kita memang sangat berbeda karena keyakinan
tapi sebagai manusia biasa kita memiliki kesamaan. I must strong, I must be a
strong man. Benar, apa katamu. Aku juga harus kuat di mata semua wanita tak
terkecuali kau. Aku harus ikhlas dengan hal ini dengan begitu aku akan
menjadikan kau wanita kuat dan ikhlas pula. Itu bukan apa yang sering kau
ajarkan kepadaku dalam segala hal yang aku lakukan saat aku bersamamu?” ujarnya
menahan tangis.
Seketika itu pula, aku
menangis dan tak mampu menahan isak tangis. Langsung kupalingkan mukaku
darinya. Aku benar-benar tidak kuat mendengar apa yang dikatakannya. Dia
benar-benar membuatku takut dalam sekejap. Kata-kata itu yang sering aku
katakan ketika dia mengalami sebuah permasalahan. Kata-kata itu pula yang
dikatakan oleh ibuku ketika ibuku mengijinkanku kuliah jauh dari rumah.
Kata-kata itu pula yang dikatakan oleh ibuku kepada ayah.
“Tuhan…Aku sangat percaya padaMu. CintaMu adalah segalanya bagiku.
Cintanya adalah sebagian kecil dari apa yang Kau berikan kepadaku. Aku
bersyukur karena sempat mencintainya. Tapi, aku harus tegas akan perasaanku
sendiri. Cinta seorang laki-laki kepadaku adalah cintaku yang membawaku pada
surgaMu nanti. Jadi, adalah kesedihan jika aku harus meneruskan cinta dengan
orang yang tidak sama denganku di hadapanMu.”
“Biarkan kehidupan kita
berjalan di arah masing-masing. Buatlah dirimu sukses dan luar biasa dengan
caramu dan aku juga akan mengikuti jejak kesuksesanmu dengan caraku. Kita nanti
akan bertemu di titik kesuksesan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan dan
menjadikan pengalaman ini adalah yang luar biasa diantara keluarbiasaan
lainnya,” ujarku dengan tangis yang masih mengalir. “Aku menangis bukan karena
aku tidak tega tapi karena aku berpikir bahwa ini mungkin memang jalan terbaik
untuk kita berdua. Aku menangis karena aku menghargai pengalaman cinta yang
pernah kita ukir dalam kehidupan kita masing-masing.”
Dia hanya diam dan aku
memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Kubalikkan tubuhku, kuambil tasku yang
tergeletak di kursi dan kudekati dia. Kuucapkan terima kasih kepadanya kemudian
aku pergi dengan hati yang mungkin agak sedikit berat tapi juga lega.
“Cinta itu adalah pilihan akan ketegasan. Cinta itu harus memihak satu
sama lain. Cinta itu harus dekat dengan Tuhan. Cinta itu harus seiring dengan
jiwa dan sanubari. Tindakan dan laku harus mengikuti apa yang dikatakan bawah
sadar maka Tuhan akan selalu membantu hubungan itu. Meski aku bukan seorang
yang sangat sempurna dalam beragama namun aku sangat mencintai Tuhanku.”
***
Sekarang aku telah mulai menata kehidupan yang
lebih baru, mungkin memang aku tidak sepenuhnya mampu melupakan masa laluku
dengan Chrishtian namun aku tidak akan stagnan dalam sebuah dilematika
kehidupan cinta yang rumit. Aku meneruskan bagaimana kehidupanku harus
berlanjut. Aku memulai dengan menekuni bidangku menulis, bekerja part time
sebagai translator online, dan jelasnya aku menjalani perkuliahan untuk meraih
gelar sarjana ekonomi. Tidak hanya itu, aku juga aktif berorganisasi. Aku
senang dengan kehidupanku, aku tidak ingin menyia-nyiakan anugrah terindah yang
diberikan Tuhan padaku. Aku ingin menjadi orang yang berguna tidak hanya untuk
diriku tapi juga untuk semua orang terutama keluarga dan teman-teman
terdekatku.
Untuk menemani
hari-hariku, kutuangkan segala macam pengalaman hidup dan nilai-nilai kehidupan
yang aku alami dalam tulisan-tulisan yang aku karyakan. Entah itu menarik atau
tidak bagi orang lain yang terpenting
aku berusaha memberikan kontribusi untuk menuangkan prinsip-prinsip kehidupan
yang aku terima kepada orang lain. Niatku tidak untuk memaksakan kehendak tapi
bagaimana agar Tuhan menyayangiku atas cara-caraku. Bagiku yang terbaik adalah
niat. Jika itu berawalan dengan baik maka Tuhan akan menerimanya dengan baik
pula. Biarkan pula orang berkata buruk tentangku, yang terpenting adalah Tuhan
tahu apa yang aku maksudkan. Bukannya aku apatis atau tidak peduli dengan orang
lain. Aku hanya berusaha menyadarkan perasaanku bahwa ketika Tuhan meridhloi
niatku maka hasil manis akan diterima di belakang. Dalam hal ini, orang lain
akan setuju dengan caraku. Karena aku yakin anggapan Tuhan akan mempengaruhi
bagaimana orang lain akan mengecapku seperti apa nanti.
Tetapi, tidak pernah
kupungkiri. Aku pun sering merasa sendiri karena cara dan prinsipku. Aku
terlalu perfeksionis, bukan dalam hal mencari teman tapi dalam hal mencari
pacar. Selain itu, terkadang aku juga masih terbayang kenangan masa lalu yang
terkadang pula membuatku takut. Aku bukan manusia sempurna, maka hal ini pun
sering mengusikku. Cinta masa lalu masih sangat menghantui perjalanan hidupku.
Aku selalu berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberikanku ketenangan dan ketentraman
perasaan. Cita-cita karir dan kehidupan pribadiku, aku ingin mendapat
keseimbangan itu.
Teman-temanku satu
kelas sering mempermasalahkan statusku, banyak dari mereka yang mengatakan
meskipun bercanda tapi seperti memintaku segera, “Ayolah Dian, cari pacar, cobalah berpacaran dengan teman laki-laki yang
mendekatimu. Kita sebentar lagi lulus lho!! Dan usia kita sudah sedikit tua
untuk tidak pernah berpacaran.”
Aku memahami kata-kata
itu, tapi aku memahami pula apa yang hatiku rasakan. Bukankah yang tahu akan
diriku hanyalah diriku sendiri dan Tuhan? Jadi, bagaimana pula aku harus
bersikap adalah pembahasan hatiku, perasaanku, dan intuisiku bukan pembahasan
orang lain. Namun pula, aku sangat berterima kasih kepada mereka karena membuatku
semakin memiliki passion dalam meraih cita-cita karir dan kehidupan pribadiku.
Aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan jika hal itu membuatku down
namun aku akan menempatkan kata-kata mereka di peringkat pertama motivasiku.
Bagiku kebahagiaanku
dan keluargaku adalah nafas kehidupanku. Teman-teman dan sahabatku, menjadi
salah satu yang lain ketika aku jauh dari keluarga. Sahabat, teman, keluarga,
cinta, diri sendiri, dan Tuhan. Semua itu adalah nomor satu dalam otak dan
hatiku. Aku sangat menyayangi mereka meski terkadang jalan pikiranku tak searah
dengan mereka karena keras kepalaku.
“Hei ya…Dian…ayo pergi
maen ke mall!!!” teriak mereka dengan semangatnya. Aku yang sebelumnya sangat
tidak menyukai mall menjadi suka karena mereka. “Let’s go!!!”
Aku terlihat bahagia di
hadapan mereka. Aku adalah seorang yang riang dan sangat sangat bahagia.
Mencintai ketentraman hati yang dibuat sendiri, seorang yang sangat suka
membayangkan dan mengimajinasikan kehidupan yang sangat nyaman. Namun pula, aku
adalah seorang yang terlalu banyak menyembunyikan permasalahan dan menganggap
dirinya mampu menangani hal itu sendirian. Aku tidak pernah tahu apakah
teman-temanku mengetahuinya. Tapi, yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku
merasa enjoy dengan mereka. Itu saja, cukup!
Namun, sebenarnya rasa
nyaman itu tidak pernah kurasakan sesederhana yang aku bayangkan. “Nyaman itu tidak semudah yang dibayangkan.
Nyaman itu adalah sesuatu yang bahagia ketika kau merasakannya. Nyaman adalah
zona dimana dirimu tidak pernah menutupi apa yang kau perlu bicarakan, lakukan,
dan nyatakan. Namun tak semudah itu
pula kau mendapatkan kenyamanan itu karena ini adalah keahlian.”
Aku tidak mengerti
bagaimana kudapatkan kenyamanan itu nantinya, tapi aku ingin menjadi seorang
yang mengikuti arus namun tetap mensistematiskan kehidupan. “Let it flow aja
melakukan kehidupan ini. Biar kata orang kamu adalah cewek perfeksionis tapi
bagi kita bertiga kamu adalah wanita hebat,” ujar Lembing teman dekatku. “Kamu
tahu??? Mungkin mereka anggep kamu freak bahkan mereka berdua pun mungkin iya,”
lanjutnya sambil menunjuk Dini dan Aris. “Tapi, aku ngerti kamu freak karena
kamu punya sisi yang ga setiap orang paham. Dan mereka pun ga paham tapi mereka
mau memahaminya karena mereka mungkin menyembunyikan sesuatu yang kita juga ga
paham. Bukan begitu?”
Aku melihat Dini dan
Aris kemudian tersenyum. Dan seketika itu pula aku melihat Lembing, tawaku yang
keras pun muncul. “Ah … kamu mah. Sok!” ujarku keras sambil menjitak kepalanya
Aris.
“Kamu tahu ga Bo …?”
panggilnya. “Di hari ulang tahunmu ini pasti akan ada sesuatu yang hebat yang
ga akan pernah kamu lupain seumur hidupmu. Begitupun aku, Dini, dan Aris,”
kemudian dia tersenyum sok polos.
“Ah … Setiap hari aku
itu spesial apalagi hari ini, paling ya seperti biasa. Telur, tepung, dan
kecap. Basi!!!” ujarku sambil berlari meninggalkan Lembing menuju ke Dini dan
Aris.
Inilah ulang tahunku…
Setiap tahun aku merayakan dengan mereka, betapa bahagia dan menyenangkannya
hal itu. Meskipun aku tanpa pasangan, namun cinta dari mereka merupakan suatu
hal yang luar biasa. Meskipun, mereka sering dalam kondisi yang menyedihkan dan
dengan tekanan setiap bersamaku. Namun, indahnya persahabatan menjadi yang
pertama bagiku dan sahabatku.
Di ulang tahunku ini,
aku berdoa : “Ya Alloh, Engkaulah yang
Maha Segalanya. Aku meminta kepadaMu, selalu lindungi aku dalam jalanMu yang
menuju surgaMu. Dekatkan aku selalu dengan keluarga, teman-temanku, dan
relasiku. Biarkan kami membagi kasih dan sayang selama kami berada di dunia
yang sangat indah ini. Dan Tuhan … You are the One and You are my Love so You
are my everything. Selalu dekatkan aku denganMu.”
“Happy birthday …,”
ucap semua teman terdekat. “Semoga, Engkau menjadi orang yang luar biasa dalam
hidupmu dan dalam kehidupanku.”
Ketika itu pula aku
menangis dalam hatiku, betapa cinta dan kasih sayang mereka mengalir dalam
darahku. Cinta mereka membuatku terhenyak. Sesaat itu pula aku sadar bahwa
cinta kami adalah kehidupan nyata dari semua kebahagiaan yang Kau berikan.
Terima kasih teman …
“Please, make a wish …,”
ujar Lembing. “Katakan semua harapanmu di hari yang menyenangkan ini. Buatlah
kami adalah saksi kebesaran Tuhan atas semua doa-doamu.”
“Aku sudah membuat
harapan dalam hidupku sebelum kalian memintanya. Dan harapan itu, akan menjadi
nyata karena kalian selalu ada disisiku hingga saat ini. Teman-temanku yang
paling berharga. Teman-teman yang menjadi pendampingku ketika aku kehilangan
mereka. Terima kasih semua … “ ujarku berlinangan air mata.
Saat itu pula, sesosok
orang mengejutkanku dari belakang. Aku kaget, aku shock, aku tidak menyangka,
dan aku mengalami guncangan hebat. Dia hadir dalam kehidupanku secara
tiba-tiba, dia pun yang lalu kuusir dalam kehidupanku. Namun, kini dia kembali
di hadapan mataku.
“Aku dulu berbeda
denganmu… Kini pun aku masih berbeda denganmu bukan karena yang mendasar tapi
karena setiap manusia memiliki perbedaan. Karena kita berbeda. Aku juga kembali
hari ini bukan untuk memintamu kembali kepadaku tapi karena hal lain yang
berbeda,” ujarnya. “Suatu hal yang mendasar itu bukan sebuah alasan untukku
kembali berteman denganmu, memulai dari awal. Tapi, karena …”
“Cukup,” potong Lembing
di tengah perkataan orang tersebut. “Kami akan pergi terlebih dahulu… Dan kau
Chrish … Lakukan yang tepat!”
Mereka bertiga pun
pergi meninggalkan aku dan Christian. Mereka dengan senyum meninggalkanku dan
saat sebelum pergi kulihat Aris menyatakan sesuatu pada Chrishtian yang aku
tidak mengerti.
Sesaat setelah itu, aku
hanya diam melihatnya dan kemudian duduk di kursi menghadap kue tart yang
teman-teman sediakan untukku. “Aku kembali karena aku mencintaimu… Aku tidak
bisa melupakanmu. Tapi, aku tidak memintamu kembali kepadaku. Aku hanya
berharap kau menerimaku sebagai teman. Kita tidak pernah menyatakan bahwa kita
akan putus sebagai teman. Dan kau pernah menyatakan bahwa kita nanti akan
bertemu di titik kesuksesan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan dan
menjadikan pengalaman ini adalah yang luar biasa diantara keluarbiasaan
lainnya. Saat ini mungkin kau belum mencapai kesuksesan yang kau harapkan tapi
aku akan menunggu. Jika nantinya, kau memilih yang lain maka aku pun juga akan
memilih yang lain. Dan di saat itu pulalah kita akan bertemu di titik
kesuksesan kita masing-masing.”
“Dan jika hal lain yang
terjadi maka kita akan bertemu dalam satu naungan cinta dari sang Terkasih yang
tiada pernah mengabaikan cinta itu,” lanjutku sembari menangis dalam
renunganku. “Di saat itu pula aku tahu bahwa Tuhan memberikan ijin padaku,”
terangku meneteskan air mata.
“Tuhan…bukan kata orang yang menyatakanku tidak mengerti cinta tetapi
karena aku percaya akan keajaibanMu. KeajaibanMu yang selalu kunanti dan
menjadikanku kuat menjalani langkah kehidupan ini. Aku bukan manusia sempurna
tapi aku berusaha mencapai kesempurnaan itu. Aku sangat bersyukur atas semua
nikmatMu tapi pula merasa berdosa karena tak pernah berhenti mengeluh padaMu.
Kini satu lagi kebahagiaan yang Kau berikan padaku, bahwa cinta itu akan muncul
dengan sendirinya. Sungguh luar biasa nikmatMu Tuhan yang tiada pernah aku
bayangkan dengan semua imajinasi otak kananku karena semua di luar jangkauanku.”
“Mari kita berteman
hingga nantinya semua memutuskan akan bagaimana kita di kehidupan selanjutnya.
Aku ingin menjadi bagian dari kehidupanmu bersama Tuhan, keluargamu,
teman-temanmu, dan semua yang kau sayangi, menyanyangimu, kau benci, dan
membencimu. Mari kita bersama belajar dalam kerangka kehidupan yang dibuat
Tuhan untuk semua hambaNya.”
Aku hanya bisa
meneteskan air mata dan tak mampu berkata apa-apa. Tak tahu kepribadian seperti
apa aku ini, tapi inilah aku. Terima kasih Tuhan, memberikanku orang-orang yang
mencintaiku dengan setulus hati mereka. Terima kasih Ayah, Ibu, Kakak,
teman-teman, dan orang-orang terdekatku. Karena kalianlah keajaiban Tuhan
padaku bersama agamaku.
Senin, 4 Februari 2013
11.30 P.M.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar