Selasa, 25 April 2017

KETIKA KAMI BERBEDA DAN SAMA


“Aku sangat takut mencintaimu karena perbedaan yang sangat jauh antara kita. Bukan karena kekayaan, kaya itu bisa diraih. Bukan karena ketampanan dan kecantikan karena keduanya bisa dipoles. Tapi, karena keyakinan. Aku sangat taat dengan cintaku pada Tuhanku, begitupun dengan dirimu. Bagaimana mungkin ketika keyakinan kita berbeda maka kita akan menyatu dalam kasihNya? Bagaimana mungkin cinta yang indah itu bisa mengalir dalam keberbedaan seperti ini?” ujarku sambil menangis melihatnya. ”Seperti apapun besarnya cintaku padamu namun ketika hal ini mengusik alam bawah sadarku maka aku pun harus mengikuti intuisiku. Mencintaimu tanpa ada ikatan, dalam hatiku kuperbolehkan. Namun, mencintaimu seperti itu lama kelamaan juga akan membuatku sakit hati sendiri karena nantinya kehidupan kita yang akan tersakiti. Maafkan aku…”
“Aku sangat memahami apa yang kau ucapkan … Tapi, mengapa hatiku terasa sakit dan terasa seperti ingin sekali menangis. Mengapa aku ingin menyalahkan takdir yang membuatku berbeda denganmu. Sebuah perbedaan mendasar yang membuatku harus terpisah secara hati denganmu, perbedaan yang membuatku harus terpisah ketika kita telah berakhir di dunia ini. Aku ingin marah pada Tuhan!!!” ujarnya berteriak.
Aku hanya diam kemudian mendekatinya yang terduduk menangis. Dia terlihat sangat terpukul dengan kenyataan ini. Sebenarnya aku pun juga sangat terpukul bahkan sangat terpukul tapi sebagai seorang muslim aku hanya bisa mengatakan “maaf aku tidak bisa menerimamu karena aku mencintai agamaku melebihi cintaku padamu. Dan aku bangga dilahirkan dari Rahim seorang muslim.” Namun, dengan sangat berat aku tidak mengatakannya. Aku hanya berusaha menghargainya karena itu akan menyakitkan dirinya. Aku juga tidak tega mengatakan hal itu. Tidak tega itu tidak hanya karena dirinya tapi juga pada diriku yang sangat mencintainya.
Aku berusaha memegang pundaknya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan namun aku hanya berusaha menenangkan hatinya dengan cara seperti itu. Saat itu pula aku mengatakan dalam hatiku “Tuhan…jika Kau jodohkan dia denganku maka rubahlah dia seperti yang Kau mau yang pastinya pantas untukku. Dan jika dia bukan kau ciptakan untukku maka buatlah dia dan diriku kuat menghadapi kenyataan pahit ini. Aku mencintainya Tuhan, tapi jika memang itu jalanku maka aku juga yakin nantinya aku akan mendapatkan yang lebih baik darinya dan dia mendapatkan yang lebih baik dariku.” Tiba-tiba pula tetesan air mata yang begitu deras tidak bisa kutahan dan kumenangis dalam perasaan yang kubuat sendiri. Berusaha menenangkannya, kuhapus air mata yang mengalir dari mataku.
“Buatlah dirimu tenang dan terlihat kuat di mata semua wanita. Jika memang ini jalan kita berdua maka jalanilah. Jangan kau buat hatimu bersedih dan diriku bersedih. Terimalah, menangislah sekarang dan segeralah berpikir tenang dan lanjutkan kehidupan indah yang diberikan Tuhan untuk kita masing-masing. Ini adalah pengalaman hebat yang diberikan Tuhan pada kita.”
Dia hanya diam dan berusaha menahan air mata tangisan. Dia kemudian menoleh padaku, “Aku tidak pantas mengatakan kemarahanku kepada Tuhan. Aku tidak memiliki hak atas hal itu. Tapi, aku bersyukur juga kepada Tuhan karena aku pernah dipertemukan denganmu. Aku benar-benar mencintaimu. Kita memang sangat berbeda karena keyakinan tapi sebagai manusia biasa kita memiliki kesamaan. I must strong, I must be a strong man. Benar, apa katamu. Aku juga harus kuat di mata semua wanita tak terkecuali kau. Aku harus ikhlas dengan hal ini dengan begitu aku akan menjadikan kau wanita kuat dan ikhlas pula. Itu bukan apa yang sering kau ajarkan kepadaku dalam segala hal yang aku lakukan saat aku bersamamu?” ujarnya menahan tangis.
Seketika itu pula, aku menangis dan tak mampu menahan isak tangis. Langsung kupalingkan mukaku darinya. Aku benar-benar tidak kuat mendengar apa yang dikatakannya. Dia benar-benar membuatku takut dalam sekejap. Kata-kata itu yang sering aku katakan ketika dia mengalami sebuah permasalahan. Kata-kata itu pula yang dikatakan oleh ibuku ketika ibuku mengijinkanku kuliah jauh dari rumah. Kata-kata itu pula yang dikatakan oleh ibuku kepada ayah.
Tuhan…Aku sangat percaya padaMu. CintaMu adalah segalanya bagiku. Cintanya adalah sebagian kecil dari apa yang Kau berikan kepadaku. Aku bersyukur karena sempat mencintainya. Tapi, aku harus tegas akan perasaanku sendiri. Cinta seorang laki-laki kepadaku adalah cintaku yang membawaku pada surgaMu nanti. Jadi, adalah kesedihan jika aku harus meneruskan cinta dengan orang yang tidak sama denganku di hadapanMu.
“Biarkan kehidupan kita berjalan di arah masing-masing. Buatlah dirimu sukses dan luar biasa dengan caramu dan aku juga akan mengikuti jejak kesuksesanmu dengan caraku. Kita nanti akan bertemu di titik kesuksesan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan dan menjadikan pengalaman ini adalah yang luar biasa diantara keluarbiasaan lainnya,” ujarku dengan tangis yang masih mengalir. “Aku menangis bukan karena aku tidak tega tapi karena aku berpikir bahwa ini mungkin memang jalan terbaik untuk kita berdua. Aku menangis karena aku menghargai pengalaman cinta yang pernah kita ukir dalam kehidupan kita masing-masing.”
Dia hanya diam dan aku memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Kubalikkan tubuhku, kuambil tasku yang tergeletak di kursi dan kudekati dia. Kuucapkan terima kasih kepadanya kemudian aku pergi dengan hati yang mungkin agak sedikit berat tapi juga lega.
Cinta itu adalah pilihan akan ketegasan. Cinta itu harus memihak satu sama lain. Cinta itu harus dekat dengan Tuhan. Cinta itu harus seiring dengan jiwa dan sanubari. Tindakan dan laku harus mengikuti apa yang dikatakan bawah sadar maka Tuhan akan selalu membantu hubungan itu. Meski aku bukan seorang yang sangat sempurna dalam beragama namun aku sangat mencintai Tuhanku.
***
 Sekarang aku telah mulai menata kehidupan yang lebih baru, mungkin memang aku tidak sepenuhnya mampu melupakan masa laluku dengan Chrishtian namun aku tidak akan stagnan dalam sebuah dilematika kehidupan cinta yang rumit. Aku meneruskan bagaimana kehidupanku harus berlanjut. Aku memulai dengan menekuni bidangku menulis, bekerja part time sebagai translator online, dan jelasnya aku menjalani perkuliahan untuk meraih gelar sarjana ekonomi. Tidak hanya itu, aku juga aktif berorganisasi. Aku senang dengan kehidupanku, aku tidak ingin menyia-nyiakan anugrah terindah yang diberikan Tuhan padaku. Aku ingin menjadi orang yang berguna tidak hanya untuk diriku tapi juga untuk semua orang terutama keluarga dan teman-teman terdekatku.
Untuk menemani hari-hariku, kutuangkan segala macam pengalaman hidup dan nilai-nilai kehidupan yang aku alami dalam tulisan-tulisan yang aku karyakan. Entah itu menarik atau tidak  bagi orang lain yang terpenting aku berusaha memberikan kontribusi untuk menuangkan prinsip-prinsip kehidupan yang aku terima kepada orang lain. Niatku tidak untuk memaksakan kehendak tapi bagaimana agar Tuhan menyayangiku atas cara-caraku. Bagiku yang terbaik adalah niat. Jika itu berawalan dengan baik maka Tuhan akan menerimanya dengan baik pula. Biarkan pula orang berkata buruk tentangku, yang terpenting adalah Tuhan tahu apa yang aku maksudkan. Bukannya aku apatis atau tidak peduli dengan orang lain. Aku hanya berusaha menyadarkan perasaanku bahwa ketika Tuhan meridhloi niatku maka hasil manis akan diterima di belakang. Dalam hal ini, orang lain akan setuju dengan caraku. Karena aku yakin anggapan Tuhan akan mempengaruhi bagaimana orang lain akan mengecapku seperti apa nanti.
Tetapi, tidak pernah kupungkiri. Aku pun sering merasa sendiri karena cara dan prinsipku. Aku terlalu perfeksionis, bukan dalam hal mencari teman tapi dalam hal mencari pacar. Selain itu, terkadang aku juga masih terbayang kenangan masa lalu yang terkadang pula membuatku takut. Aku bukan manusia sempurna, maka hal ini pun sering mengusikku. Cinta masa lalu masih sangat menghantui perjalanan hidupku. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberikanku ketenangan dan ketentraman perasaan. Cita-cita karir dan kehidupan pribadiku, aku ingin mendapat keseimbangan itu.
Teman-temanku satu kelas sering mempermasalahkan statusku, banyak dari mereka yang mengatakan meskipun bercanda tapi seperti memintaku segera, “Ayolah Dian, cari pacar, cobalah berpacaran dengan teman laki-laki yang mendekatimu. Kita sebentar lagi lulus lho!! Dan usia kita sudah sedikit tua untuk tidak pernah berpacaran.
Aku memahami kata-kata itu, tapi aku memahami pula apa yang hatiku rasakan. Bukankah yang tahu akan diriku hanyalah diriku sendiri dan Tuhan? Jadi, bagaimana pula aku harus bersikap adalah pembahasan hatiku, perasaanku, dan intuisiku bukan pembahasan orang lain. Namun pula, aku sangat berterima kasih kepada mereka karena membuatku semakin memiliki passion dalam meraih cita-cita karir dan kehidupan pribadiku. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan jika hal itu membuatku down namun aku akan menempatkan kata-kata mereka di peringkat pertama motivasiku.
Bagiku kebahagiaanku dan keluargaku adalah nafas kehidupanku. Teman-teman dan sahabatku, menjadi salah satu yang lain ketika aku jauh dari keluarga. Sahabat, teman, keluarga, cinta, diri sendiri, dan Tuhan. Semua itu adalah nomor satu dalam otak dan hatiku. Aku sangat menyayangi mereka meski terkadang jalan pikiranku tak searah dengan mereka karena keras kepalaku.
“Hei ya…Dian…ayo pergi maen ke mall!!!” teriak mereka dengan semangatnya. Aku yang sebelumnya sangat tidak menyukai mall menjadi suka karena mereka. “Let’s go!!!”
Aku terlihat bahagia di hadapan mereka. Aku adalah seorang yang riang dan sangat sangat bahagia. Mencintai ketentraman hati yang dibuat sendiri, seorang yang sangat suka membayangkan dan mengimajinasikan kehidupan yang sangat nyaman. Namun pula, aku adalah seorang yang terlalu banyak menyembunyikan permasalahan dan menganggap dirinya mampu menangani hal itu sendirian. Aku tidak pernah tahu apakah teman-temanku mengetahuinya. Tapi, yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku merasa enjoy dengan mereka. Itu saja, cukup!
Namun, sebenarnya rasa nyaman itu tidak pernah kurasakan sesederhana yang aku bayangkan. “Nyaman itu tidak semudah yang dibayangkan. Nyaman itu adalah sesuatu yang bahagia ketika kau merasakannya. Nyaman adalah zona dimana dirimu tidak pernah menutupi apa yang kau perlu bicarakan, lakukan, dan nyatakan. Namun tak semudah itu pula kau mendapatkan kenyamanan itu karena ini adalah keahlian.”
Aku tidak mengerti bagaimana kudapatkan kenyamanan itu nantinya, tapi aku ingin menjadi seorang yang mengikuti arus namun tetap mensistematiskan kehidupan. “Let it flow aja melakukan kehidupan ini. Biar kata orang kamu adalah cewek perfeksionis tapi bagi kita bertiga kamu adalah wanita hebat,” ujar Lembing teman dekatku. “Kamu tahu??? Mungkin mereka anggep kamu freak bahkan mereka berdua pun mungkin iya,” lanjutnya sambil menunjuk Dini dan Aris. “Tapi, aku ngerti kamu freak karena kamu punya sisi yang ga setiap orang paham. Dan mereka pun ga paham tapi mereka mau memahaminya karena mereka mungkin menyembunyikan sesuatu yang kita juga ga paham. Bukan begitu?”
Aku melihat Dini dan Aris kemudian tersenyum. Dan seketika itu pula aku melihat Lembing, tawaku yang keras pun muncul. “Ah … kamu mah. Sok!” ujarku keras sambil menjitak kepalanya Aris.
“Kamu tahu ga Bo …?” panggilnya. “Di hari ulang tahunmu ini pasti akan ada sesuatu yang hebat yang ga akan pernah kamu lupain seumur hidupmu. Begitupun aku, Dini, dan Aris,” kemudian dia tersenyum sok polos.
“Ah … Setiap hari aku itu spesial apalagi hari ini, paling ya seperti biasa. Telur, tepung, dan kecap. Basi!!!” ujarku sambil berlari meninggalkan Lembing menuju ke Dini dan Aris.
Inilah ulang tahunku… Setiap tahun aku merayakan dengan mereka, betapa bahagia dan menyenangkannya hal itu. Meskipun aku tanpa pasangan, namun cinta dari mereka merupakan suatu hal yang luar biasa. Meskipun, mereka sering dalam kondisi yang menyedihkan dan dengan tekanan setiap bersamaku. Namun, indahnya persahabatan menjadi yang pertama bagiku dan sahabatku.
Di ulang tahunku ini, aku berdoa : “Ya Alloh, Engkaulah yang Maha Segalanya. Aku meminta kepadaMu, selalu lindungi aku dalam jalanMu yang menuju surgaMu. Dekatkan aku selalu dengan keluarga, teman-temanku, dan relasiku. Biarkan kami membagi kasih dan sayang selama kami berada di dunia yang sangat indah ini. Dan Tuhan … You are the One and You are my Love so You are my everything. Selalu dekatkan aku denganMu.
“Happy birthday …,” ucap semua teman terdekat. “Semoga, Engkau menjadi orang yang luar biasa dalam hidupmu dan dalam kehidupanku.”
Ketika itu pula aku menangis dalam hatiku, betapa cinta dan kasih sayang mereka mengalir dalam darahku. Cinta mereka membuatku terhenyak. Sesaat itu pula aku sadar bahwa cinta kami adalah kehidupan nyata dari semua kebahagiaan yang Kau berikan. Terima kasih teman …
“Please, make a wish …,” ujar Lembing. “Katakan semua harapanmu di hari yang menyenangkan ini. Buatlah kami adalah saksi kebesaran Tuhan atas semua doa-doamu.”
“Aku sudah membuat harapan dalam hidupku sebelum kalian memintanya. Dan harapan itu, akan menjadi nyata karena kalian selalu ada disisiku hingga saat ini. Teman-temanku yang paling berharga. Teman-teman yang menjadi pendampingku ketika aku kehilangan mereka. Terima kasih semua … “ ujarku berlinangan air mata.
Saat itu pula, sesosok orang mengejutkanku dari belakang. Aku kaget, aku shock, aku tidak menyangka, dan aku mengalami guncangan hebat. Dia hadir dalam kehidupanku secara tiba-tiba, dia pun yang lalu kuusir dalam kehidupanku. Namun, kini dia kembali di hadapan mataku.
“Aku dulu berbeda denganmu… Kini pun aku masih berbeda denganmu bukan karena yang mendasar tapi karena setiap manusia memiliki perbedaan. Karena kita berbeda. Aku juga kembali hari ini bukan untuk memintamu kembali kepadaku tapi karena hal lain yang berbeda,” ujarnya. “Suatu hal yang mendasar itu bukan sebuah alasan untukku kembali berteman denganmu, memulai dari awal. Tapi, karena …”
“Cukup,” potong Lembing di tengah perkataan orang tersebut. “Kami akan pergi terlebih dahulu… Dan kau Chrish … Lakukan yang tepat!”
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan aku dan Christian. Mereka dengan senyum meninggalkanku dan saat sebelum pergi kulihat Aris menyatakan sesuatu pada Chrishtian yang aku tidak mengerti.
Sesaat setelah itu, aku hanya diam melihatnya dan kemudian duduk di kursi menghadap kue tart yang teman-teman sediakan untukku. “Aku kembali karena aku mencintaimu… Aku tidak bisa melupakanmu. Tapi, aku tidak memintamu kembali kepadaku. Aku hanya berharap kau menerimaku sebagai teman. Kita tidak pernah menyatakan bahwa kita akan putus sebagai teman. Dan kau pernah menyatakan bahwa kita nanti akan bertemu di titik kesuksesan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan dan menjadikan pengalaman ini adalah yang luar biasa diantara keluarbiasaan lainnya. Saat ini mungkin kau belum mencapai kesuksesan yang kau harapkan tapi aku akan menunggu. Jika nantinya, kau memilih yang lain maka aku pun juga akan memilih yang lain. Dan di saat itu pulalah kita akan bertemu di titik kesuksesan kita masing-masing.”
“Dan jika hal lain yang terjadi maka kita akan bertemu dalam satu naungan cinta dari sang Terkasih yang tiada pernah mengabaikan cinta itu,” lanjutku sembari menangis dalam renunganku. “Di saat itu pula aku tahu bahwa Tuhan memberikan ijin padaku,” terangku meneteskan air mata.
Tuhan…bukan kata orang yang menyatakanku tidak mengerti cinta tetapi karena aku percaya akan keajaibanMu. KeajaibanMu yang selalu kunanti dan menjadikanku kuat menjalani langkah kehidupan ini. Aku bukan manusia sempurna tapi aku berusaha mencapai kesempurnaan itu. Aku sangat bersyukur atas semua nikmatMu tapi pula merasa berdosa karena tak pernah berhenti mengeluh padaMu. Kini satu lagi kebahagiaan yang Kau berikan padaku, bahwa cinta itu akan muncul dengan sendirinya. Sungguh luar biasa nikmatMu Tuhan yang tiada pernah aku bayangkan dengan semua imajinasi otak kananku karena semua di luar jangkauanku.
“Mari kita berteman hingga nantinya semua memutuskan akan bagaimana kita di kehidupan selanjutnya. Aku ingin menjadi bagian dari kehidupanmu bersama Tuhan, keluargamu, teman-temanmu, dan semua yang kau sayangi, menyanyangimu, kau benci, dan membencimu. Mari kita bersama belajar dalam kerangka kehidupan yang dibuat Tuhan untuk semua hambaNya.”
Aku hanya bisa meneteskan air mata dan tak mampu berkata apa-apa. Tak tahu kepribadian seperti apa aku ini, tapi inilah aku. Terima kasih Tuhan, memberikanku orang-orang yang mencintaiku dengan setulus hati mereka. Terima kasih Ayah, Ibu, Kakak, teman-teman, dan orang-orang terdekatku. Karena kalianlah keajaiban Tuhan padaku bersama agamaku.

Senin, 4 Februari 2013

11.30 P.M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OUR MESSAGE TO BWF: DON'T PLAY A ROLE AS A VICTIM AND PLEASE FIX YOUR SYSTEM

The controversy of the NHS and BWF decision to withdraw the Indonesian Badminton Team from participating in All England 2021 makes Indonesia...