Jumat, 28 April 2017

SENJA, SAKSI CINTAKU

Sekali lagi kuingin bercerita pada senja
Senja yang indah sore ini
Boleh kan aku becerita padamu senja?
Jangan lelah yaa mendengarkanku

Kenapa kau begitu indah senja hingga membuatku ingin menikmatimu selalu
entah kunikmati sendiri atau dengan dia
Saat kunikmati sendiri
kuingin nikmati dengan secarik kertas dan pena
ku akan bercengkerama denganmu lewat tulisanku
di sebuah ruang terbuka yang penuh dengan pepohonan nan hijau
Lengkapnya, jika aku bersama dia
kuingin menikmati pancaran indahmu senja sambil tertawa atau setia
mendengar ceritanya, keluh kesahnya, candanya
kemudian ditemani dengan dua gelas minuman kesukaannya
tak perlulah kusebut nama minuman itu
dan juga dengan indahnya pemandangan sekitar
baik ramai lalu lalang atau bahkan tak seorang pun selain kami
yang jelas ada dia, aku, dan kamu senja di situ

Yahh begitulah senja ceritaku
Jika suatu hari aku ingin bercerita lagi
Jangan pernah lelah mendengarku yaa

Terima kasih senja … 
Seragu apapun dia padaku
Aku sudah yakin padanya
Hanya doa dan keyakinan ini usahaku
Sisanya kuserahkan padaMu
Aku mencintaimu Tuhan

~ Lewat Dia ~

Rabu, 26 April 2017

Waktu yang Tepat Bersama Senja

Senja sore hari begitu indah
Di tempat ini
dimana aku ingin mengukir kenangan indah itu
Apalagi jika aku menikmatinya bersamamu
Namun,
sekarang aku masih hanya bisa melambaikan tanganku ke arahmu
Menyapa dan memberitahukan
“Yaa…kau tahu senja di sini begitu mempesona. Tidak kah kau ingin menikmatinya?”
Iyaa…
Hanya itu yang akan kusampaikan sekarang
Saat tiba waktunya nanti, mari kita melihatnya bersama berdampingan
Di waktu yang benar-benar tepat
ketika Allah mengijinkanmu dan aku bersama dalam manisnya senja
Bukan begitu kawan?

MEMAHAMI

Pagi kemarin
“Nak, Ibu sudah menyadari. Tidak mungkin kita terus meratapi kepergian seseorang,” ujar suara wanita tua keluar dari speaker phone seseorang. “Terpenting sekarang bagaimana kita membantu dua anak kecil itu tumbuh dewasa dan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya layaknya impian saudara kita.”
Gadis yang mendengarkan pun tersenyum. “Maafkan Ibu pula Nak, selama enam bulan ini mengacuhkanmu, tak mau mendengar keluh kesahmu. Andai engkau tidak menangis kemarin ketika akan kembali bekerja maka mungkin Ibu akan tetap seperti kemarin,” lanjut wanita tua itu. “Berjanjilah Nak, untuk selalu semangat meraih cita-cita dan impianmu. Jangan pernah lelah untuk menjadikan diri bermanfaat. Kamu jangan pernah lemah Nak pula Ibu tidak akan lemah untukmu. Ibu kuat karena kau selalu terlihat tersenyum dan semangat dalam meraih cita-citamu.”
Gadis itu pun menitikkan air mata. Selang beberapa menit dalam diam kemudian berkata. “Tidak, Ibu tidak pernah sekalipun mengacuhkanku. Itu adalah proses agar aku lebih dewasa. Agar aku bisa seperti Ibu. Menjadi orang yang tegar dan kuat, Ibu yang menjadi madrasah anak-anaknya, dan seorang istri yang menjadi pelabuhan terbaik suaminya,” kata gadis itu. “Aku akan terus berjuang Ibu. Untuk cita-cita dan impianku.”
“Iya Nak, teruslah berjuang dan teruslah meminta pada Allah. Pasti dia akan memberikanNya.”
Seringkali kulihat pedih di mata wanita tua itu
Tapi selalu pula berusaha tertawa di depan sang gadis
Pula sang gadis
Kadang dia ingin menangis sekeras-kerasnya
Namun hanya bisa menahan
Padahal mungkin keduanya sama-sama tau perasaan sesungguhnya
Sungguh ikatan Ibu dan anaknya dibuat seindah itu oleh Allah
Besar sekali nikmat Allah

4 November 2016

???

“Bukankah menemui kegagalan itu adalah salah satu jalan menuju kesuksesanmu?”
“Iya..”
“Lalu kenapa sekarang kau seperti putus asa?”
“Benarkah aku terlihat seperti itu?”
“Menurutmu sendiri? Seperti itu atau tidak dirimu?”
“Hmmmm…” berpikir. Selang beberapa waktu. “Sepertinya iya.”
“Ahhh…kau ragu dengan dirimu sendiri!”
“Hei yaa…kalau aku ragu kenapa aku melangkah sejauh ini? Kenapa aku tetap berjalan dan bahkan berlari untuk kebaikan yang ingin kucapai? Kau ini! Terlalu cepat menghakimiku.”
“Tunggu dulu…siapa yang berusaha menghakimimu? Aku hanya bilang kau ragu dengan dirimu. Tapi, ragu dengan menjawab sepertinya. Itu maksudku.”
“Hahhh? Aku bingung dengan perkataanmu.”
“Ahhh baiklah, kujelaskan. Kau ragu menjawab pertanyaanku apakah dirimu putus asa atau tidak. Tapi, sebenarnya tidak.”
“Apakah kurang tegas maksudmu?”
“Iyaa…”
“Baiklah, aku akan menjawab dengan tegas sekarang aku tidak putus asa. Aku hanya sedang butuh waktu untuk memulihkan diri.”
“Baiklah. Kutunggu lagi semangatmu seperti dulu.”
“Iyaa…tunggu aku.”
Kemudian senyum.

~ 4 Des 2016 ~

UNTUKMU

Bolehkah aku bercerita padamu sejenak saja?
Iya mungkin tidak lebih dari 10 menit kau membacanya.
Iyaa hari ini aku sakit, merasa malas, dan tidak ingin mengerjakan apa-apa
Aku hanya ingin sejenak melupakan permasalahan hidup, kekhawatiran kekhawatiran yang muncul dalam diriku
Tapi, aku rasa itu tidak benar
Tidak bisa aku melupakannya
Aku hanya butuh istirahat
Kemudian menata kembali rencana-rencana dan melaksanakannya
Bukan begitu?
Iyaa..aku tau kau pasti hanya diam
Tapi, aku tau kau menjawabnya
Entah itu dalam hatimu, dalam tindakanmu, atau bahkan dalam doamu
Kamu yang tidak pernah menjawab langsung kegelisahanku sedang menyiapkan diri membawa jawaban besar yang mungkin tak kuduga-duga
Kamu tau Dia sedang memperhatikanmu diam-diam dari atas sana.
Pula, dia sedang memperhatikanku.
Sampai nanti aku bisa bersamamu karenaNya.
Aku akan mengarungi susah dan senang bersamamu dengan kekuatan yang diberikanNya.
Boleh kan aku meminta seperti itu?

10 Oktober 2016

TERIMA KASIH

Menulis tentangmu lebih membuatku tenang dibandingkan aku harus mengingat tentang permasalahanku
Benar katamu siapapun tidak pernah menyangka akan seperti apa nanti
Permasalahan yang terjadi padaku adalah pengingat untukku

Aku menyadari suatu hal, bahwa aku bukan apa-apa dibandingkan dengan dirimu
Mencintaimu membuatku sadar beribu-ribu kali
bahwa semua permasalahan hidup yang kualami saat ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dirimu hadapi
bahwa banyak rasa syukur yang harus aku sampaikan ke Tuhan
Kalau kau menganggap diriku lebih baik dibanding dirimu
itu tidak salah karena itu pandanganmu
Namun jika itu aku, maka kusampaikan
sebenarnya aku pun sama dengan yang lain
hanya aku sedang memperbaiki diri
berusaha untuk mencintai Tuhan dengan sepenuh hatiku
Aku terkadang merasa tidak percaya diri dekat dengan dirimu
aku ini siapa?
Wajahku tidak secantik wanita-wanita lain yang mungkin juga mencintaimu
aku tidak pintar memoles wajahku
aku sama sekali belum pernah bertemu denganmu

Seringkali aku berharap pada Tuhan
semoga kelak kau adalah yang Tuhan berikan untukku
menuntunku ke arah Tuhanku
pula bersama-sama belajar memahami mengenai agama
Pula aku berharap semoga aku bisa menjadi tempatmu berkeluh kesah
kala kau lelah, sedih, dan bahagia
Kini yang bisa kulakukan hanyalah berdoa kepada Tuhan
semoga diam ku dalam doa adalah tempatku memahat cintaku kepada Tuhanku
tempatku berkeluh kesah terbaik tentang dirimu
Semoga rinduku adalah rindu terbaik yang Tuhan berikan
Terima kasih Tuhan mengabulkan doaku
Terima kasihku untukmu

26 April 2016
2.40 PM

Selasa, 25 April 2017

KETIKA KAMI BERBEDA DAN SAMA


“Aku sangat takut mencintaimu karena perbedaan yang sangat jauh antara kita. Bukan karena kekayaan, kaya itu bisa diraih. Bukan karena ketampanan dan kecantikan karena keduanya bisa dipoles. Tapi, karena keyakinan. Aku sangat taat dengan cintaku pada Tuhanku, begitupun dengan dirimu. Bagaimana mungkin ketika keyakinan kita berbeda maka kita akan menyatu dalam kasihNya? Bagaimana mungkin cinta yang indah itu bisa mengalir dalam keberbedaan seperti ini?” ujarku sambil menangis melihatnya. ”Seperti apapun besarnya cintaku padamu namun ketika hal ini mengusik alam bawah sadarku maka aku pun harus mengikuti intuisiku. Mencintaimu tanpa ada ikatan, dalam hatiku kuperbolehkan. Namun, mencintaimu seperti itu lama kelamaan juga akan membuatku sakit hati sendiri karena nantinya kehidupan kita yang akan tersakiti. Maafkan aku…”
“Aku sangat memahami apa yang kau ucapkan … Tapi, mengapa hatiku terasa sakit dan terasa seperti ingin sekali menangis. Mengapa aku ingin menyalahkan takdir yang membuatku berbeda denganmu. Sebuah perbedaan mendasar yang membuatku harus terpisah secara hati denganmu, perbedaan yang membuatku harus terpisah ketika kita telah berakhir di dunia ini. Aku ingin marah pada Tuhan!!!” ujarnya berteriak.
Aku hanya diam kemudian mendekatinya yang terduduk menangis. Dia terlihat sangat terpukul dengan kenyataan ini. Sebenarnya aku pun juga sangat terpukul bahkan sangat terpukul tapi sebagai seorang muslim aku hanya bisa mengatakan “maaf aku tidak bisa menerimamu karena aku mencintai agamaku melebihi cintaku padamu. Dan aku bangga dilahirkan dari Rahim seorang muslim.” Namun, dengan sangat berat aku tidak mengatakannya. Aku hanya berusaha menghargainya karena itu akan menyakitkan dirinya. Aku juga tidak tega mengatakan hal itu. Tidak tega itu tidak hanya karena dirinya tapi juga pada diriku yang sangat mencintainya.
Aku berusaha memegang pundaknya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan namun aku hanya berusaha menenangkan hatinya dengan cara seperti itu. Saat itu pula aku mengatakan dalam hatiku “Tuhan…jika Kau jodohkan dia denganku maka rubahlah dia seperti yang Kau mau yang pastinya pantas untukku. Dan jika dia bukan kau ciptakan untukku maka buatlah dia dan diriku kuat menghadapi kenyataan pahit ini. Aku mencintainya Tuhan, tapi jika memang itu jalanku maka aku juga yakin nantinya aku akan mendapatkan yang lebih baik darinya dan dia mendapatkan yang lebih baik dariku.” Tiba-tiba pula tetesan air mata yang begitu deras tidak bisa kutahan dan kumenangis dalam perasaan yang kubuat sendiri. Berusaha menenangkannya, kuhapus air mata yang mengalir dari mataku.
“Buatlah dirimu tenang dan terlihat kuat di mata semua wanita. Jika memang ini jalan kita berdua maka jalanilah. Jangan kau buat hatimu bersedih dan diriku bersedih. Terimalah, menangislah sekarang dan segeralah berpikir tenang dan lanjutkan kehidupan indah yang diberikan Tuhan untuk kita masing-masing. Ini adalah pengalaman hebat yang diberikan Tuhan pada kita.”
Dia hanya diam dan berusaha menahan air mata tangisan. Dia kemudian menoleh padaku, “Aku tidak pantas mengatakan kemarahanku kepada Tuhan. Aku tidak memiliki hak atas hal itu. Tapi, aku bersyukur juga kepada Tuhan karena aku pernah dipertemukan denganmu. Aku benar-benar mencintaimu. Kita memang sangat berbeda karena keyakinan tapi sebagai manusia biasa kita memiliki kesamaan. I must strong, I must be a strong man. Benar, apa katamu. Aku juga harus kuat di mata semua wanita tak terkecuali kau. Aku harus ikhlas dengan hal ini dengan begitu aku akan menjadikan kau wanita kuat dan ikhlas pula. Itu bukan apa yang sering kau ajarkan kepadaku dalam segala hal yang aku lakukan saat aku bersamamu?” ujarnya menahan tangis.
Seketika itu pula, aku menangis dan tak mampu menahan isak tangis. Langsung kupalingkan mukaku darinya. Aku benar-benar tidak kuat mendengar apa yang dikatakannya. Dia benar-benar membuatku takut dalam sekejap. Kata-kata itu yang sering aku katakan ketika dia mengalami sebuah permasalahan. Kata-kata itu pula yang dikatakan oleh ibuku ketika ibuku mengijinkanku kuliah jauh dari rumah. Kata-kata itu pula yang dikatakan oleh ibuku kepada ayah.
Tuhan…Aku sangat percaya padaMu. CintaMu adalah segalanya bagiku. Cintanya adalah sebagian kecil dari apa yang Kau berikan kepadaku. Aku bersyukur karena sempat mencintainya. Tapi, aku harus tegas akan perasaanku sendiri. Cinta seorang laki-laki kepadaku adalah cintaku yang membawaku pada surgaMu nanti. Jadi, adalah kesedihan jika aku harus meneruskan cinta dengan orang yang tidak sama denganku di hadapanMu.
“Biarkan kehidupan kita berjalan di arah masing-masing. Buatlah dirimu sukses dan luar biasa dengan caramu dan aku juga akan mengikuti jejak kesuksesanmu dengan caraku. Kita nanti akan bertemu di titik kesuksesan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan dan menjadikan pengalaman ini adalah yang luar biasa diantara keluarbiasaan lainnya,” ujarku dengan tangis yang masih mengalir. “Aku menangis bukan karena aku tidak tega tapi karena aku berpikir bahwa ini mungkin memang jalan terbaik untuk kita berdua. Aku menangis karena aku menghargai pengalaman cinta yang pernah kita ukir dalam kehidupan kita masing-masing.”
Dia hanya diam dan aku memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Kubalikkan tubuhku, kuambil tasku yang tergeletak di kursi dan kudekati dia. Kuucapkan terima kasih kepadanya kemudian aku pergi dengan hati yang mungkin agak sedikit berat tapi juga lega.
Cinta itu adalah pilihan akan ketegasan. Cinta itu harus memihak satu sama lain. Cinta itu harus dekat dengan Tuhan. Cinta itu harus seiring dengan jiwa dan sanubari. Tindakan dan laku harus mengikuti apa yang dikatakan bawah sadar maka Tuhan akan selalu membantu hubungan itu. Meski aku bukan seorang yang sangat sempurna dalam beragama namun aku sangat mencintai Tuhanku.
***
 Sekarang aku telah mulai menata kehidupan yang lebih baru, mungkin memang aku tidak sepenuhnya mampu melupakan masa laluku dengan Chrishtian namun aku tidak akan stagnan dalam sebuah dilematika kehidupan cinta yang rumit. Aku meneruskan bagaimana kehidupanku harus berlanjut. Aku memulai dengan menekuni bidangku menulis, bekerja part time sebagai translator online, dan jelasnya aku menjalani perkuliahan untuk meraih gelar sarjana ekonomi. Tidak hanya itu, aku juga aktif berorganisasi. Aku senang dengan kehidupanku, aku tidak ingin menyia-nyiakan anugrah terindah yang diberikan Tuhan padaku. Aku ingin menjadi orang yang berguna tidak hanya untuk diriku tapi juga untuk semua orang terutama keluarga dan teman-teman terdekatku.
Untuk menemani hari-hariku, kutuangkan segala macam pengalaman hidup dan nilai-nilai kehidupan yang aku alami dalam tulisan-tulisan yang aku karyakan. Entah itu menarik atau tidak  bagi orang lain yang terpenting aku berusaha memberikan kontribusi untuk menuangkan prinsip-prinsip kehidupan yang aku terima kepada orang lain. Niatku tidak untuk memaksakan kehendak tapi bagaimana agar Tuhan menyayangiku atas cara-caraku. Bagiku yang terbaik adalah niat. Jika itu berawalan dengan baik maka Tuhan akan menerimanya dengan baik pula. Biarkan pula orang berkata buruk tentangku, yang terpenting adalah Tuhan tahu apa yang aku maksudkan. Bukannya aku apatis atau tidak peduli dengan orang lain. Aku hanya berusaha menyadarkan perasaanku bahwa ketika Tuhan meridhloi niatku maka hasil manis akan diterima di belakang. Dalam hal ini, orang lain akan setuju dengan caraku. Karena aku yakin anggapan Tuhan akan mempengaruhi bagaimana orang lain akan mengecapku seperti apa nanti.
Tetapi, tidak pernah kupungkiri. Aku pun sering merasa sendiri karena cara dan prinsipku. Aku terlalu perfeksionis, bukan dalam hal mencari teman tapi dalam hal mencari pacar. Selain itu, terkadang aku juga masih terbayang kenangan masa lalu yang terkadang pula membuatku takut. Aku bukan manusia sempurna, maka hal ini pun sering mengusikku. Cinta masa lalu masih sangat menghantui perjalanan hidupku. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberikanku ketenangan dan ketentraman perasaan. Cita-cita karir dan kehidupan pribadiku, aku ingin mendapat keseimbangan itu.
Teman-temanku satu kelas sering mempermasalahkan statusku, banyak dari mereka yang mengatakan meskipun bercanda tapi seperti memintaku segera, “Ayolah Dian, cari pacar, cobalah berpacaran dengan teman laki-laki yang mendekatimu. Kita sebentar lagi lulus lho!! Dan usia kita sudah sedikit tua untuk tidak pernah berpacaran.
Aku memahami kata-kata itu, tapi aku memahami pula apa yang hatiku rasakan. Bukankah yang tahu akan diriku hanyalah diriku sendiri dan Tuhan? Jadi, bagaimana pula aku harus bersikap adalah pembahasan hatiku, perasaanku, dan intuisiku bukan pembahasan orang lain. Namun pula, aku sangat berterima kasih kepada mereka karena membuatku semakin memiliki passion dalam meraih cita-cita karir dan kehidupan pribadiku. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan jika hal itu membuatku down namun aku akan menempatkan kata-kata mereka di peringkat pertama motivasiku.
Bagiku kebahagiaanku dan keluargaku adalah nafas kehidupanku. Teman-teman dan sahabatku, menjadi salah satu yang lain ketika aku jauh dari keluarga. Sahabat, teman, keluarga, cinta, diri sendiri, dan Tuhan. Semua itu adalah nomor satu dalam otak dan hatiku. Aku sangat menyayangi mereka meski terkadang jalan pikiranku tak searah dengan mereka karena keras kepalaku.
“Hei ya…Dian…ayo pergi maen ke mall!!!” teriak mereka dengan semangatnya. Aku yang sebelumnya sangat tidak menyukai mall menjadi suka karena mereka. “Let’s go!!!”
Aku terlihat bahagia di hadapan mereka. Aku adalah seorang yang riang dan sangat sangat bahagia. Mencintai ketentraman hati yang dibuat sendiri, seorang yang sangat suka membayangkan dan mengimajinasikan kehidupan yang sangat nyaman. Namun pula, aku adalah seorang yang terlalu banyak menyembunyikan permasalahan dan menganggap dirinya mampu menangani hal itu sendirian. Aku tidak pernah tahu apakah teman-temanku mengetahuinya. Tapi, yang terpenting bagiku adalah bagaimana aku merasa enjoy dengan mereka. Itu saja, cukup!
Namun, sebenarnya rasa nyaman itu tidak pernah kurasakan sesederhana yang aku bayangkan. “Nyaman itu tidak semudah yang dibayangkan. Nyaman itu adalah sesuatu yang bahagia ketika kau merasakannya. Nyaman adalah zona dimana dirimu tidak pernah menutupi apa yang kau perlu bicarakan, lakukan, dan nyatakan. Namun tak semudah itu pula kau mendapatkan kenyamanan itu karena ini adalah keahlian.”
Aku tidak mengerti bagaimana kudapatkan kenyamanan itu nantinya, tapi aku ingin menjadi seorang yang mengikuti arus namun tetap mensistematiskan kehidupan. “Let it flow aja melakukan kehidupan ini. Biar kata orang kamu adalah cewek perfeksionis tapi bagi kita bertiga kamu adalah wanita hebat,” ujar Lembing teman dekatku. “Kamu tahu??? Mungkin mereka anggep kamu freak bahkan mereka berdua pun mungkin iya,” lanjutnya sambil menunjuk Dini dan Aris. “Tapi, aku ngerti kamu freak karena kamu punya sisi yang ga setiap orang paham. Dan mereka pun ga paham tapi mereka mau memahaminya karena mereka mungkin menyembunyikan sesuatu yang kita juga ga paham. Bukan begitu?”
Aku melihat Dini dan Aris kemudian tersenyum. Dan seketika itu pula aku melihat Lembing, tawaku yang keras pun muncul. “Ah … kamu mah. Sok!” ujarku keras sambil menjitak kepalanya Aris.
“Kamu tahu ga Bo …?” panggilnya. “Di hari ulang tahunmu ini pasti akan ada sesuatu yang hebat yang ga akan pernah kamu lupain seumur hidupmu. Begitupun aku, Dini, dan Aris,” kemudian dia tersenyum sok polos.
“Ah … Setiap hari aku itu spesial apalagi hari ini, paling ya seperti biasa. Telur, tepung, dan kecap. Basi!!!” ujarku sambil berlari meninggalkan Lembing menuju ke Dini dan Aris.
Inilah ulang tahunku… Setiap tahun aku merayakan dengan mereka, betapa bahagia dan menyenangkannya hal itu. Meskipun aku tanpa pasangan, namun cinta dari mereka merupakan suatu hal yang luar biasa. Meskipun, mereka sering dalam kondisi yang menyedihkan dan dengan tekanan setiap bersamaku. Namun, indahnya persahabatan menjadi yang pertama bagiku dan sahabatku.
Di ulang tahunku ini, aku berdoa : “Ya Alloh, Engkaulah yang Maha Segalanya. Aku meminta kepadaMu, selalu lindungi aku dalam jalanMu yang menuju surgaMu. Dekatkan aku selalu dengan keluarga, teman-temanku, dan relasiku. Biarkan kami membagi kasih dan sayang selama kami berada di dunia yang sangat indah ini. Dan Tuhan … You are the One and You are my Love so You are my everything. Selalu dekatkan aku denganMu.
“Happy birthday …,” ucap semua teman terdekat. “Semoga, Engkau menjadi orang yang luar biasa dalam hidupmu dan dalam kehidupanku.”
Ketika itu pula aku menangis dalam hatiku, betapa cinta dan kasih sayang mereka mengalir dalam darahku. Cinta mereka membuatku terhenyak. Sesaat itu pula aku sadar bahwa cinta kami adalah kehidupan nyata dari semua kebahagiaan yang Kau berikan. Terima kasih teman …
“Please, make a wish …,” ujar Lembing. “Katakan semua harapanmu di hari yang menyenangkan ini. Buatlah kami adalah saksi kebesaran Tuhan atas semua doa-doamu.”
“Aku sudah membuat harapan dalam hidupku sebelum kalian memintanya. Dan harapan itu, akan menjadi nyata karena kalian selalu ada disisiku hingga saat ini. Teman-temanku yang paling berharga. Teman-teman yang menjadi pendampingku ketika aku kehilangan mereka. Terima kasih semua … “ ujarku berlinangan air mata.
Saat itu pula, sesosok orang mengejutkanku dari belakang. Aku kaget, aku shock, aku tidak menyangka, dan aku mengalami guncangan hebat. Dia hadir dalam kehidupanku secara tiba-tiba, dia pun yang lalu kuusir dalam kehidupanku. Namun, kini dia kembali di hadapan mataku.
“Aku dulu berbeda denganmu… Kini pun aku masih berbeda denganmu bukan karena yang mendasar tapi karena setiap manusia memiliki perbedaan. Karena kita berbeda. Aku juga kembali hari ini bukan untuk memintamu kembali kepadaku tapi karena hal lain yang berbeda,” ujarnya. “Suatu hal yang mendasar itu bukan sebuah alasan untukku kembali berteman denganmu, memulai dari awal. Tapi, karena …”
“Cukup,” potong Lembing di tengah perkataan orang tersebut. “Kami akan pergi terlebih dahulu… Dan kau Chrish … Lakukan yang tepat!”
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan aku dan Christian. Mereka dengan senyum meninggalkanku dan saat sebelum pergi kulihat Aris menyatakan sesuatu pada Chrishtian yang aku tidak mengerti.
Sesaat setelah itu, aku hanya diam melihatnya dan kemudian duduk di kursi menghadap kue tart yang teman-teman sediakan untukku. “Aku kembali karena aku mencintaimu… Aku tidak bisa melupakanmu. Tapi, aku tidak memintamu kembali kepadaku. Aku hanya berharap kau menerimaku sebagai teman. Kita tidak pernah menyatakan bahwa kita akan putus sebagai teman. Dan kau pernah menyatakan bahwa kita nanti akan bertemu di titik kesuksesan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan dan menjadikan pengalaman ini adalah yang luar biasa diantara keluarbiasaan lainnya. Saat ini mungkin kau belum mencapai kesuksesan yang kau harapkan tapi aku akan menunggu. Jika nantinya, kau memilih yang lain maka aku pun juga akan memilih yang lain. Dan di saat itu pulalah kita akan bertemu di titik kesuksesan kita masing-masing.”
“Dan jika hal lain yang terjadi maka kita akan bertemu dalam satu naungan cinta dari sang Terkasih yang tiada pernah mengabaikan cinta itu,” lanjutku sembari menangis dalam renunganku. “Di saat itu pula aku tahu bahwa Tuhan memberikan ijin padaku,” terangku meneteskan air mata.
Tuhan…bukan kata orang yang menyatakanku tidak mengerti cinta tetapi karena aku percaya akan keajaibanMu. KeajaibanMu yang selalu kunanti dan menjadikanku kuat menjalani langkah kehidupan ini. Aku bukan manusia sempurna tapi aku berusaha mencapai kesempurnaan itu. Aku sangat bersyukur atas semua nikmatMu tapi pula merasa berdosa karena tak pernah berhenti mengeluh padaMu. Kini satu lagi kebahagiaan yang Kau berikan padaku, bahwa cinta itu akan muncul dengan sendirinya. Sungguh luar biasa nikmatMu Tuhan yang tiada pernah aku bayangkan dengan semua imajinasi otak kananku karena semua di luar jangkauanku.
“Mari kita berteman hingga nantinya semua memutuskan akan bagaimana kita di kehidupan selanjutnya. Aku ingin menjadi bagian dari kehidupanmu bersama Tuhan, keluargamu, teman-temanmu, dan semua yang kau sayangi, menyanyangimu, kau benci, dan membencimu. Mari kita bersama belajar dalam kerangka kehidupan yang dibuat Tuhan untuk semua hambaNya.”
Aku hanya bisa meneteskan air mata dan tak mampu berkata apa-apa. Tak tahu kepribadian seperti apa aku ini, tapi inilah aku. Terima kasih Tuhan, memberikanku orang-orang yang mencintaiku dengan setulus hati mereka. Terima kasih Ayah, Ibu, Kakak, teman-teman, dan orang-orang terdekatku. Karena kalianlah keajaiban Tuhan padaku bersama agamaku.

Senin, 4 Februari 2013

11.30 P.M.

Senin, 24 April 2017

BIDADARI

Selamat pagi duniaku …
Apa kabarmu hari ini?
Aku bahkan tidak mendengar suaramu…
Apakah kau masih tidur dalam gelap?
Atau kau memang sengaja bersembunyi dalam keheningan?
Aku tidak pernah tahu …
Tapi, aku sedang mencari tahu …
Tak lama setelah itu …
Ternyata kulihat kau sedang menelisik hatiku
Mencari jawaban atas sesuatu
Dan kemudian kau tersenyum muncul di hadapku
Kau katakan : “Hari ini kulihat hatimu bahagia.”
Dan kuberkata : “Itu, karena kau selalu di sisiku menemaniku.”
Kau kembali berkata : “Meski kita terbentang jauh jarak?”
Dan kumenjawab : “Yap…”
Kau tersenyum …
Dan dua bidadariku pun muncul satu per satu
Mereka tersenyum dan menanyakan bagaimana kabarku hari ini
Aku pun menjawab : “Aku selalu baik karena selalu memikirkan kalian.”
Mereka kemudian berkata : “Kau sudah besar.”
Dan cinta itu pun selalu menyeruak di seluruh tubuhku
Aku tidak pernah berhenti menyapa Tuhan
dan aku berkata padaNya
“Terima kasih karena telah memberikanku dua bidadari yang sangat luar biasa”

16 Juli 2013
09.27 A.M.

Ini puisi aku persembahkan untuk kedua orang tuaku yang selalu menemaniku ketika aku jauh maupun dekat dengan doa dan perhatiannya. Terima kasih Emak dan Bapak atas cinta kalian yang tidak pernah henti untuk anak bungsumu yang paling manja ini.
Hai hai hai … So, ini pertama kalinya buat aku upload cerpen buatanku. Yah, ini cerpen jadul banget. Ini cerita beneran cuman fiksi dan aku nulisnya waktu aku SMA kelas satu. Sorry kalau bahasanya agak alay dan lebay, maklum ini cerita kan dibuat sama anak yang baru gede alias ABG. Nanti lain kali aku upload cerpen aku yang terbaru yang tentunya lebih dewasa dikit pemikirannya. Enjoy!

REKAH

Mata binar itu kini menatap sayup wajah tak berkisar ini. Aku tak kuasa menahan perasaan sedihku. Aku berlari ke arahnya. Kuangkat kepalanya dalam pangkuanku. Sungguh malang kehidupannya. Tempat sepi disertai garis-garis putih dan tiang-tiang dengan tali-tali membentuk ring ini menjadi saksi betapa dia tak bertuan dengan tubuhnya sendiri. Tangan berbalut kain putih yang tak berdaya ketika dia lemparkan bola merah itu.
Aku ingin menangis dan berteriak “betapa bodohnya dirimu!” tapi aku tak berharap dia bertambah sakit dengan perhatian itu. Aku akan menangis dalam hatiku sendiri dan aku melihat senyum dalam wajahku.
                        Ya Tuhan
                        maafkan diriku
                        aku tak tega
                        tuk katakan
                        “Betapa bodohnya dia!”
                        Tapi,
aku tak ingin
mengasihani dirinya,
karena kau yakin
dia akan kuat
Meski aku tahu
betapa lemahnya dia
Ya Tuhan,
aku benar-benar bimbang
Langkah mata yang sayup itu menggerakkan bola mata dengan penuh cairan yang mungkin tak kuasa ia tahan. Namun, apakah yang bergejolak dalam hatinya? Aku belum tahu. Ingin kuselami jiwa itu, namun akankah dia sedia akan kehadiranku lebih dalam. Aku sudah terlalu mendalami dia, dan kulihatnya merasa terganggu dengan perasaanku.
“Jangan pernah mengasihaniku!” teriaknya tiba-tiba lalu mengangkat dirinya. “Aku tak suka dengan happy ending. Jadi, lebih baik kau pergi dari mataku.”
Aku melihat sinar itu redup. Langkah gontai itu semakin membuat hatiku menangis. Ingatkah nyata dalam hatinya bahwa dialah air yang seharusnya mengalir tapi ketika itu dia menentang arus. Dia-lah jiwa yang kosong yang harus aku dampingi. Tapi mungkinkah itu kesombonganku?
Kakak, tahukah kau, aku begitu mencintaimu? Aku begitu mengagumimu. Aku berharap happy ending itu adalah aku dan dirimu. Membawa kebersihan kesucian dalam keheningan rasa kasih,” jeritku dalam hati.”Bentuk rasa kasih yang sangat aku inginkan.
Aku memang mungkin hanyalah diam dalam bahasa yang tak terbaca. Tapi, aku melihat dirinya nyata di depan mataku yang tercipta. Dan pada saat itu, kulangkahkan kakiku dalam tubuhku yang hampa. Tak kuasa kutahan sedih air mata ini. Melihat sinar terang yang lama hilang dari kehidupannya. Kubawa dia menuju tempat yang kuyakin membuatnya kembali terang.
***
Dan . . .
dalam keredupan ini
Aku berlari mencari
sinar yang bahagia
dari dirimu
Aku berharap
dia kembali datang
dalam jiwamu yang kosong
Dalam keremangan itu . . .
kasihku tak pernah lenyap
Hanya waktu
yang membuatku
seakan sabar dalam penantian
Penantian akan mata
 yang berbinar
dalam kecerahan
Siang . . .
Tak pernah kuanggap siang
Malam . . .
Kurasa dalam kesyahduan
Syahdu dalam pendengar
debar hatimu yang kunanti

Aku menangis . . .
walau wajahku tersenyum
Aku berharap
kekasihku kan cepat memandangku
walau mungkin
dalam tatapan sahabat
Aku mengharap
“cinta” itu membangunkanmu
Kekasih . . .
Aku melihat sekelilingku, akankah dia selalu terbaring dalam pembaringan putih penuh bau-bau tak sedap ini? Akankah Tuhan tega meletakkan tubuhnya selama ini? Dan “TIDAK!” jeritku dalam hati. Tuhan mengerti yang terbaik untuk dia. Dan aku yakin dia akan terbangun kembali menatap hidupnya.
Simfoni kehidupannya kuyakin akan meneranginya. Aku akan setia menjaga dirinya. Diri yang haus akan kasih sayang yang tak didapatkannya. Kasih sayang yang sangat dibutuhkannya. Walau itu sulit, kan kuberi dia dekap hangat kekasih yang lama hilang. Kekasih yang selalu sibuk dengan hidupnya sendiri.
Perempuan itu menatapku lalu ia pergi. Kulihat dari belakang langkah wanita itu. Aku tak kuasa melihat kekasih yang terbaring dan tangan berbalut kain putih itu marah dalam hatinya. Kulangkahkan kaki dan melangkah cepat. Wanita itu, duduk di kursi tunggu. Pelan kudekati.
“Saya mungkin hanya mengerti sedikit, tapi dia sangat rindu dengan sosok itu nyonya,”ucapku. “Dia sering memasak mie kuah dan memakannya sendiri. Dia sering tertidur dengan lagu-lagu lembut. Dia anak yang hebat! Mengasihi teman dengan sepenuh hati dan selalu tersenyum.”
“Meskipun senyuman itu dalam tangisan yang membara.”
“Ah . . . saya tahu nyonya sibuk tapi sempatkanlah untuk memeluknya. Sekali saja!”
Aku dan beliau hanya diam. Tak kutatap sepasang mata tua yang sebenarnya indah itu. Kubiarkan hati dan jiwaku membeku dan tak membuka pembicaraan dengannya. Aku mungkin membuat dia marah tapi aku melakukannya karena kebaikan. Dia mungkin tak kan tahu jika aku tak bicara atau mungkin dia hanya mengira jika aku tak berkata. Mungkin lama waktu yang kan dijalaninya tapi aku yakin naluri itu adalah miliknya dan selalu mengisinya. Walau hanya kecil, tapi kasih tak pernah berubah meski secuil. Dia pergi berlalu dari sampingku. Tubuh itu tampak lelah melangkah. Benarkah kecewa sesaat? Namun, aku mengerti sesuatu tidak bisa berubah dalam sekejap. Aku yakin meski tidak saat ini, dia akan segera kembali untuk kakakku yang bodoh itu.
Aku kembali beranjak menuju tempat pembaringannya. Kulangkahkan kakiku dengan gontai. Tak tahu pikiranku terarah ke mana. Kepalaku seakan penuh tak berisi apapun. Tapi, mataku tetap ada pada jalan-jalan berdinding putih ini. Hingga tak terasa tubuhku menyentuh sesuatu.
“Nona, kalau jalan lihat-lihat dong!” ujar pemuda itu sedikit jengkel kepadaku.
Aku hanya melihat pemuda itu tanpa berkata apapun. Entah mengapa, pikiranku hanya terisi dengan orang yang sedari kemarin terbaring di tempat yang mungkin tidak ia sukai.
***
Aku benar-benar sedih melihat kondisinya yang tak layak ini. Aku benar-benar tak kuasa menahan peluhan air mataku. Aku sudah menunggunya hampir satu minggu tapi mengapa mata itu tak segera memberi kecerahan. Mata yang selama ini membuatku nyaman untuk tersenyum. Mata yang selalu membuatku semangat. Mata yang selalu menatap hatiku dengan lembut. Tapi, juga mata yang membohongi perasaannya.
Oh Tuhan! Mata yang benar-benar berbinar dalam kepahitan. Ingin sekali kulihat kembali menghiasi dirinya. Jari-jemari yang benar-benar terampil. Ingin kembali kulihat di lapangan. Ketenangan yang teduh. Ingin kembali kulihat di hadapan teman lawan. Aku ingin melihat kelemahan dan kelebihannya kembali menguatkan jiwaku.
“Aku mencintaimu kakak!”ujarku lirih kubisikkan dalam telinganya.
“Aku berjanji untuk selalu menjagamu selama aku bisa,” ujarku memegang tangannya. ”Jari-jemariku ini kuyakin akan kembali berlaga. Aku akan melihatmu di lapangan.”
Tak terasa peluhan air mata ini semakin deras. Tak ada makna lebih kecuali aku mengharap kehadirannya kembali secara utuh dalam hidupku. Selama aku bisa aku akan terus menunggunya.
Dan tiba-tiba anugrah itu datang. Penantianku telah berbuah hasil. Kesabaranku menjaga hatiku untuk bertahan. Jari-jemari itu perlahan bergerak dan mata beriringan dengan bibir indahnya membuka. Dan betapa senangnya diriku ketika satu nama yang ia sebut adalah namaku.
“Yiwa . . .” panggilnya sembari jari-jemari tangannya berusaha meraih tanganku.
Aku berusaha memalingkan muka dan menghapus air mataku. Tapi, mimik bibir itu terlanjur berkata: “Tak ada gunanya kau menangisi keadaan!”
“Kau tak pantas menangis karenaku,” ucapnya. “Kau wanita baik-baik, aku tak suka itu.”
“Vendra,” tiba-tiba emosiku bertambah. “Aku menangisimu karena aku suka padamu. Aku tak peduli kakak suka wanita baik-baik atau tidak. Aku tak peduli kakak tidak suka cerita dengan happy ending.”
“Aku tak peduli dengan semua yang buruk tentang diri kakak. Karena aku yakin kakak adalah baik,”ucapku.
“Jadi, sekarang kau senang dengan tahu semua tentangku. Tentang keluargaku,”ucapnya dengan nada agak tinggi.
Kulepaskan genggaman tangannya dariku. Beranjak kuberdiri dan memalingkan mukaku darinya. “Aku menunggumu lebih kurang satu minggu. Aku tetap mencintaimu tapi waktuku untuk sendiri saat ini.”
***
Aku telah lama berdiri di pintu ini. Pintu yang begitu sangat ingin kubuka tapi selalu saja terhenti oleh keraguanku. Otakku seakan berhenti berpikir ketika aku ingin memegang pintu ini. Aku tak takut untuk masuk dan sekedar menyapa tapi aku berpikir dengan logikaku. Dia seolah akan tahu apa yang terjadi selanjutnya. Bimbang, ragu, tak pasti? Itulah perasaan yang mengisi kehidupanku.
“Pergilah ke dalam! Dia butuh hatimu bukan logikamu,” ujar seorang lelaki mengagetkanku.”Sekarang!” lanjut lelaki itu lalu dia berhambur meninggalkanku.
“Logika! Sebenarnya, apakah aku berpikir untuk datang pada cintaku? Hatiku dibutuhkannnya? Apakah aku tak menggunakan hatiku untuk bicara bahasa cinta?” ujarku dalam hati.
“Dia memang rindu sosok itu. Terima kasih kau mengingatkanku. Saat ini, bicaralah dengan hatimu karena dia membutuhkanmu.”
Wanita itu lalu pergi. Kulihat aura cerah wanita itu. Wanita yang pernah membuatku bergejolak. Sekarang, mungkin dia telah berjalan dengan tegak. Dan kalimat “Bicaralah dengan hatimu...”

Oh Tuhan . . .
Samar-samar kuraba
makna yang tersirat
dan apakah yang dimaksud

Kutengadahkan telapakku
memuja hatiMu
Dan kini
kumohon petunjukmu
Malam dalam telunjukMu
Apa yang tersirat dalam citraMu
Tlah kugapai dalam anganku
Hati, logika dan laksana tubuhku beriring menatap tahap demi tahap ruang itu. Kupandang dalam dinding tempat itu. Aku duduk menatap cinta yang tertidur dalam lindunganNya. Dia menggeliat lemah.
“Yiwa…”urainya lemah. “Aku senang melihatmu.”
“Tak pernah ada happy ending, tak suka gadis baik-baik,”ujarku.
“Dan perlulah berpikir dalam hati dan logika,”sahutnya.
Senyum terkembang dalam raut mukaku dan dia. Aku tak mengerti tapi aku merasa hatiku lega. Mencair dalam kebekuan. Dan senyum setelah kepahitan.
“Maafkan semua salahku!”pintanya.
“Maaf atas keraguanku,”sahutku.
Dan hiduplah suasana indahku. Merasa kehangatan dan kelembutan sesaat setelah keasaman. Cinta itu memang tak membuatnya berubah namun mewarnai hidup barunya. Sebuah cinta yang indah.
“Aku terus menggeliat dengan tangan dan kakiku,”urainya.
“Dan aku mendukungmu saat hati dan logika menulis cinta dalam memori keindahan,”sahutku.
Cinta memang akan selalu indah
Di saat waktu telah mempertemukannya
Aku menyapa keheningan cinta
Memilih kebahagiaan dan menghindari kepedihan
Aku menginginkan bersama dia yang kucinta
Dia yang telah lama kutunggu dengan kasih
Dan kini datang padaku dengan kasih
“Aku mencintaimu dan aku akan bersamamu,” ujarnya. “Kau berarti bagiku karena kaulah cinta dan logikaku,” lanjutnya.

The End

UNTUKMU SAHABAT

Tahukah dirimu?
Saat aku mencintai yang lalu, cukup banyak orang yang mengetahui cerita cinta itu
Sekarang kala aku mencintaimu, aku tidak menginginkan itu
Aku ingin menjaga cerita cintaku padamu hanya bersama keluarga dan satu teman dekatku
Aku tidak ingin menceritakan kepada yang lain
karena aku yakin mereka tidak akan mengerti perasaan yang kumiliki dan tindakan yang kau lakukan
Tapi, memang sungguh aku terkadang tidak mengerti
Mengapa masih ada saja orang yang ingin tahu kehidupan orang lain
"Kamu enggak mungkin deh enggak punya pacar. Siapa sih pacarmu?" ungkap seorang teman
"Kamu ceritakan dong kisah cinta yang kamu miliki padaku!" ujar teman yang lain.
"Eh, aku baru kepoin sosial mediamu lo, tapi kok ngga ada yang bisa aku temuin soal kisah cintamu sih. Kasih clue-nya dong!" lanjut yang lain.
Ada juga yang tahu kisah cintaku di masa lalu, kemudian mengungkitnya kembali di masa kini hingga membuatnya seperti kisahku saat ini
"Hei kamu, sabar yaa. Lelaki memang begitu, terkadang butuh waktu untuk menentukan siapa yang akan mereka pilih sebagai pacar."
Yahh, aku sih mengerti itu adalah keingintahuan mereka
mungkin juga itu adalah bukti kasih sayang mereka sebagai teman
Tapi, mungkin yang bisa aku katakan sekarang adalah:
"Maaf, untuk yang ini aku tidak bisa menceritakannya pada kalian."
Bukan aku pelit, kalian selalu menceritakan kisah kalian kepadaku namun aku enggan menceritakan kisahku, tapi aku belajar dari masa lalu
Aku tidak ingin pembicaraan orang lain akan menyakiti hati orang yang kucintai
Pula, aku hanya ingin meyakinkan perasaan yang kumiliki bersama Tuhan dan keluargaku
Aku yakin, siapapun yang keluar menjadi yang terakhir bagiku kalian akan mengetahuinya pada waktu yang tepat
Namun, itu bukan saat ini
Maka, mengertilah kawan-kawan terbaikku

Sabtu, 22 April 2017

SEBUAH PENGINGAT

Setiap kali hujan turun, aku mengingatmu
Apa yang kau lakukan disana?
Sudah makankah dirimu?
Apakah kau lelah?
Terkadang dan mungkin sering khawatir menggelayuti diriku
karenamu yang jauh disana
Terkadang pula aku bertanya
“Bolehkah Tuhan nanti aku yang menemaninya dalam setiap bahagianya, lelahnya, sedihnya? Bolehkah?”

Kala hujan turun pula, aku berharap berada di sampingmu
Memberikanmu pelukan hangat untuk sekedar memberitahukan sayangku
Membuatkanmu secangkir kopi kemudian duduk bersama saling bercerita,
Pula menemani lelahmu sembari mendengarkan keluh kesahmu
Keluhmu tentang impianmu, anganmu, dan citamu

Mungkin, tidak ada yang lebih indah bagiku selain bisa bersamamu
memberikan apa yang kumiliki hanya untukmu
tentu saja dengan persetujuan Tuhan kita
Jika memang itu adalah yang terindah dan terbaik untukku
maka Tuhan akan berikan jalanNya kelak
Jika Tuhan berikanmu untukku
akan kujaga dirimu seperti kala aku menginginkanmu
Tulisan ini adalah pengingatku

Untukmu yang kucintai

OUR MESSAGE TO BWF: DON'T PLAY A ROLE AS A VICTIM AND PLEASE FIX YOUR SYSTEM

The controversy of the NHS and BWF decision to withdraw the Indonesian Badminton Team from participating in All England 2021 makes Indonesia...