Hai hai hai … So, ini pertama kalinya buat aku upload cerpen
buatanku. Yah, ini cerpen jadul banget. Ini cerita beneran cuman fiksi dan aku
nulisnya waktu aku SMA kelas satu. Sorry kalau bahasanya agak alay dan lebay,
maklum ini cerita kan dibuat sama anak yang baru gede alias ABG. Nanti lain
kali aku upload cerpen aku yang terbaru yang tentunya lebih dewasa dikit
pemikirannya. Enjoy!
REKAH
Mata binar itu kini menatap sayup wajah tak berkisar ini. Aku tak kuasa
menahan perasaan sedihku. Aku berlari ke arahnya. Kuangkat kepalanya dalam
pangkuanku. Sungguh malang
kehidupannya. Tempat sepi disertai garis-garis putih dan tiang-tiang dengan
tali-tali membentuk ring ini menjadi saksi betapa dia tak bertuan dengan
tubuhnya sendiri. Tangan berbalut kain putih yang tak berdaya ketika dia
lemparkan bola merah itu.
Aku ingin menangis dan berteriak “betapa bodohnya dirimu!” tapi aku tak
berharap dia bertambah sakit dengan perhatian itu. Aku akan menangis dalam
hatiku sendiri dan aku melihat senyum dalam wajahku.
Ya Tuhan
maafkan diriku
aku tak tega
tuk katakan
“Betapa bodohnya dia!”
Tapi,
aku tak ingin
mengasihani dirinya,
karena kau yakin
dia akan kuat
Meski aku tahu
betapa lemahnya dia
Ya Tuhan,
aku benar-benar bimbang
Langkah mata yang sayup itu menggerakkan bola mata dengan penuh cairan
yang mungkin tak kuasa ia tahan. Namun, apakah yang bergejolak dalam hatinya?
Aku belum tahu. Ingin kuselami jiwa itu, namun akankah dia sedia akan
kehadiranku lebih dalam. Aku sudah terlalu mendalami dia, dan kulihatnya merasa
terganggu dengan perasaanku.
“Jangan pernah mengasihaniku!” teriaknya tiba-tiba lalu mengangkat
dirinya. “Aku tak suka dengan happy ending. Jadi, lebih baik kau pergi dari
mataku.”
Aku melihat sinar itu redup. Langkah gontai itu semakin membuat hatiku
menangis. Ingatkah nyata dalam hatinya bahwa dialah air yang seharusnya
mengalir tapi ketika itu dia menentang arus. Dia-lah jiwa yang kosong yang
harus aku dampingi. Tapi mungkinkah itu kesombonganku?
“Kakak, tahukah kau, aku begitu
mencintaimu? Aku begitu mengagumimu. Aku berharap happy ending itu adalah aku
dan dirimu. Membawa kebersihan kesucian dalam keheningan rasa kasih,” jeritku
dalam hati.”Bentuk rasa kasih yang sangat
aku inginkan.”
Aku memang mungkin hanyalah diam dalam bahasa yang tak terbaca. Tapi, aku
melihat dirinya nyata di depan mataku yang tercipta. Dan pada saat itu,
kulangkahkan kakiku dalam tubuhku yang hampa. Tak kuasa kutahan sedih air mata
ini. Melihat sinar terang yang lama hilang dari kehidupannya. Kubawa dia menuju
tempat yang kuyakin membuatnya kembali terang.
***
Dan . . .
dalam keredupan ini
Aku berlari mencari
sinar yang bahagia
dari dirimu
Aku berharap
dia kembali datang
dalam jiwamu yang kosong
Dalam keremangan itu . . .
kasihku tak pernah lenyap
Hanya waktu
yang membuatku
seakan sabar dalam penantian
Penantian akan mata
yang berbinar
dalam kecerahan
Siang . . .
Tak pernah kuanggap siang
Malam . . .
Kurasa dalam kesyahduan
Syahdu dalam pendengar
debar hatimu yang kunanti
Aku menangis . . .
walau wajahku tersenyum
Aku berharap
kekasihku kan
cepat memandangku
walau mungkin
dalam tatapan sahabat
Aku mengharap
“cinta” itu membangunkanmu
Kekasih . . .
Aku melihat sekelilingku, akankah dia selalu terbaring dalam pembaringan
putih penuh bau-bau tak sedap ini? Akankah Tuhan tega meletakkan tubuhnya
selama ini? Dan “TIDAK!” jeritku dalam hati. Tuhan mengerti yang terbaik untuk
dia. Dan aku yakin dia akan terbangun kembali menatap hidupnya.
Simfoni kehidupannya kuyakin akan meneranginya. Aku akan setia menjaga
dirinya. Diri yang haus akan kasih sayang yang tak didapatkannya. Kasih sayang
yang sangat dibutuhkannya. Walau itu sulit, kan kuberi dia dekap hangat kekasih yang
lama hilang. Kekasih yang selalu sibuk dengan hidupnya sendiri.
Perempuan itu menatapku lalu ia pergi. Kulihat dari belakang langkah
wanita itu. Aku tak kuasa melihat kekasih yang terbaring dan tangan berbalut
kain putih itu marah dalam hatinya. Kulangkahkan kaki dan melangkah cepat.
Wanita itu, duduk di kursi tunggu. Pelan kudekati.
“Saya mungkin hanya mengerti sedikit, tapi dia sangat rindu dengan sosok
itu nyonya,”ucapku. “Dia sering memasak mie kuah dan memakannya sendiri. Dia
sering tertidur dengan lagu-lagu lembut. Dia anak yang hebat! Mengasihi teman
dengan sepenuh hati dan selalu tersenyum.”
“Meskipun senyuman itu dalam tangisan yang membara.”
“Ah . . . saya tahu nyonya sibuk tapi sempatkanlah untuk memeluknya.
Sekali saja!”
Aku dan beliau hanya diam. Tak kutatap sepasang mata tua yang sebenarnya
indah itu. Kubiarkan hati dan jiwaku membeku dan tak membuka pembicaraan
dengannya. Aku mungkin membuat dia marah tapi aku melakukannya karena kebaikan.
Dia mungkin tak kan
tahu jika aku tak bicara atau mungkin dia hanya mengira jika aku tak berkata.
Mungkin lama waktu yang kan
dijalaninya tapi aku yakin naluri itu adalah miliknya dan selalu mengisinya.
Walau hanya kecil, tapi kasih tak pernah berubah meski secuil. Dia pergi
berlalu dari sampingku. Tubuh itu tampak lelah melangkah. Benarkah kecewa
sesaat? Namun, aku mengerti sesuatu tidak bisa berubah dalam sekejap. Aku yakin
meski tidak saat ini, dia akan segera kembali untuk kakakku yang bodoh itu.
Aku kembali beranjak menuju tempat pembaringannya. Kulangkahkan kakiku
dengan gontai. Tak tahu pikiranku terarah ke mana. Kepalaku seakan penuh tak
berisi apapun. Tapi, mataku tetap ada pada jalan-jalan berdinding putih ini.
Hingga tak terasa tubuhku menyentuh sesuatu.
“Nona, kalau jalan lihat-lihat dong!” ujar pemuda itu sedikit jengkel
kepadaku.
Aku hanya melihat pemuda itu tanpa berkata apapun. Entah mengapa,
pikiranku hanya terisi dengan orang yang sedari kemarin terbaring di tempat
yang mungkin tidak ia sukai.
***
Aku benar-benar sedih melihat kondisinya yang tak layak ini. Aku benar-benar
tak kuasa menahan peluhan air mataku. Aku sudah menunggunya hampir satu minggu
tapi mengapa mata itu tak segera memberi kecerahan. Mata yang selama ini membuatku
nyaman untuk tersenyum. Mata yang selalu membuatku semangat. Mata yang selalu
menatap hatiku dengan lembut. Tapi, juga mata yang membohongi perasaannya.
Oh Tuhan! Mata yang benar-benar berbinar dalam kepahitan. Ingin sekali
kulihat kembali menghiasi dirinya. Jari-jemari yang benar-benar terampil. Ingin
kembali kulihat di lapangan. Ketenangan yang teduh. Ingin kembali kulihat di
hadapan teman lawan. Aku ingin melihat kelemahan dan kelebihannya kembali
menguatkan jiwaku.
“Aku mencintaimu kakak!”ujarku lirih kubisikkan dalam telinganya.
“Aku berjanji untuk selalu menjagamu selama aku bisa,” ujarku memegang
tangannya. ”Jari-jemariku ini kuyakin akan kembali berlaga. Aku akan melihatmu
di lapangan.”
Tak terasa peluhan air mata ini semakin deras. Tak ada makna lebih
kecuali aku mengharap kehadirannya kembali secara utuh dalam hidupku. Selama
aku bisa aku akan terus menunggunya.
Dan tiba-tiba anugrah itu datang. Penantianku telah berbuah hasil.
Kesabaranku menjaga hatiku untuk bertahan. Jari-jemari itu perlahan bergerak
dan mata beriringan dengan bibir indahnya membuka. Dan betapa senangnya diriku
ketika satu nama yang ia sebut adalah namaku.
“Yiwa . . .” panggilnya sembari jari-jemari tangannya berusaha meraih
tanganku.
Aku berusaha memalingkan muka dan menghapus air mataku. Tapi, mimik bibir
itu terlanjur berkata: “Tak ada gunanya kau menangisi keadaan!”
“Kau tak pantas menangis karenaku,” ucapnya. “Kau wanita baik-baik, aku
tak suka itu.”
“Vendra,” tiba-tiba emosiku bertambah. “Aku menangisimu karena aku suka
padamu. Aku tak peduli kakak suka wanita baik-baik atau tidak. Aku tak peduli
kakak tidak suka cerita dengan happy ending.”
“Aku tak peduli dengan semua yang buruk tentang diri kakak. Karena aku
yakin kakak adalah baik,”ucapku.
“Jadi, sekarang kau senang dengan tahu semua tentangku. Tentang
keluargaku,”ucapnya dengan nada agak tinggi.
Kulepaskan genggaman tangannya dariku. Beranjak kuberdiri dan memalingkan
mukaku darinya. “Aku menunggumu lebih kurang satu minggu. Aku tetap mencintaimu
tapi waktuku untuk sendiri saat ini.”
***
Aku telah lama berdiri di pintu ini. Pintu yang begitu sangat ingin
kubuka tapi selalu saja terhenti oleh keraguanku. Otakku seakan berhenti
berpikir ketika aku ingin memegang pintu ini. Aku tak takut untuk masuk dan
sekedar menyapa tapi aku berpikir dengan logikaku. Dia seolah akan tahu apa
yang terjadi selanjutnya. Bimbang, ragu, tak pasti? Itulah perasaan yang
mengisi kehidupanku.
“Pergilah ke dalam! Dia butuh hatimu bukan logikamu,” ujar seorang lelaki
mengagetkanku.”Sekarang!” lanjut lelaki itu lalu dia berhambur meninggalkanku.
“Logika! Sebenarnya, apakah aku berpikir untuk datang pada cintaku?
Hatiku dibutuhkannnya? Apakah aku tak menggunakan hatiku untuk bicara bahasa
cinta?” ujarku dalam hati.
“Dia memang rindu sosok itu. Terima kasih kau mengingatkanku. Saat ini,
bicaralah dengan hatimu karena dia membutuhkanmu.”
Wanita itu lalu pergi. Kulihat aura cerah wanita itu. Wanita yang pernah
membuatku bergejolak. Sekarang, mungkin dia telah berjalan dengan tegak. Dan
kalimat “Bicaralah dengan hatimu...”
Oh Tuhan . . .
Samar-samar kuraba
makna yang tersirat
dan apakah yang dimaksud
Kutengadahkan telapakku
memuja hatiMu
Dan kini
kumohon petunjukmu
Malam
dalam telunjukMu
Apa
yang tersirat dalam citraMu
Tlah
kugapai dalam anganku
Hati, logika dan laksana tubuhku beriring menatap tahap demi tahap ruang
itu. Kupandang dalam dinding tempat itu. Aku duduk menatap cinta yang tertidur
dalam lindunganNya. Dia menggeliat lemah.
“Yiwa…”urainya lemah. “Aku senang melihatmu.”
“Tak pernah ada happy ending, tak suka gadis baik-baik,”ujarku.
“Dan perlulah berpikir dalam hati dan logika,”sahutnya.
Senyum terkembang dalam raut mukaku dan dia. Aku tak mengerti tapi aku
merasa hatiku lega. Mencair dalam kebekuan. Dan senyum setelah kepahitan.
“Maafkan semua salahku!”pintanya.
“Maaf atas keraguanku,”sahutku.
Dan hiduplah suasana indahku. Merasa kehangatan dan kelembutan sesaat
setelah keasaman. Cinta itu memang tak membuatnya berubah namun mewarnai hidup
barunya. Sebuah cinta yang indah.
“Aku terus menggeliat dengan tangan dan kakiku,”urainya.
“Dan aku mendukungmu saat hati dan logika menulis cinta dalam memori
keindahan,”sahutku.
Cinta memang akan selalu indah
Di saat waktu telah
mempertemukannya
Aku menyapa keheningan cinta
Memilih kebahagiaan dan
menghindari kepedihan
Aku menginginkan bersama dia yang
kucinta
Dia yang telah lama kutunggu
dengan kasih
Dan kini datang padaku dengan
kasih
“Aku mencintaimu dan aku akan bersamamu,” ujarnya. “Kau berarti bagiku
karena kaulah cinta dan logikaku,” lanjutnya.
The
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar