“Bukankah menemui kegagalan itu adalah salah satu jalan menuju kesuksesanmu?”
“Iya..”
“Lalu kenapa sekarang kau seperti putus asa?”
“Benarkah aku terlihat seperti itu?”
“Menurutmu sendiri? Seperti itu atau tidak dirimu?”
“Hmmmm…” berpikir. Selang beberapa waktu. “Sepertinya iya.”
“Ahhh…kau ragu dengan dirimu sendiri!”
“Hei yaa…kalau aku ragu kenapa aku melangkah sejauh ini? Kenapa aku tetap berjalan dan bahkan berlari untuk kebaikan yang ingin kucapai? Kau ini! Terlalu cepat menghakimiku.”
“Tunggu dulu…siapa yang berusaha menghakimimu? Aku hanya bilang kau ragu dengan dirimu. Tapi, ragu dengan menjawab sepertinya. Itu maksudku.”
“Hahhh? Aku bingung dengan perkataanmu.”
“Ahhh baiklah, kujelaskan. Kau ragu menjawab pertanyaanku apakah dirimu putus asa atau tidak. Tapi, sebenarnya tidak.”
“Apakah kurang tegas maksudmu?”
“Iyaa…”
“Baiklah, aku akan menjawab dengan tegas sekarang aku tidak putus asa. Aku hanya sedang butuh waktu untuk memulihkan diri.”
“Baiklah. Kutunggu lagi semangatmu seperti dulu.”
“Iyaa…tunggu aku.”
Kemudian senyum.
~ 4 Des 2016 ~
Rabu, 26 April 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
OUR MESSAGE TO BWF: DON'T PLAY A ROLE AS A VICTIM AND PLEASE FIX YOUR SYSTEM
The controversy of the NHS and BWF decision to withdraw the Indonesian Badminton Team from participating in All England 2021 makes Indonesia...
-
The controversy of the NHS and BWF decision to withdraw the Indonesian Badminton Team from participating in All England 2021 makes Indonesia...
-
Bolehkah aku bercerita padamu sejenak saja? Iya mungkin tidak lebih dari 10 menit kau membacanya. Iyaa hari ini aku sakit, merasa malas, dan...
-
Setiap kali hujan turun, aku mengingatmu Apa yang kau lakukan disana? Sudah makankah dirimu? Apakah kau lelah? Terkadang dan mungki...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar