Minggu, 14 Mei 2017

CATATAN TENTANG KEJUJURAN

Ini cerita tentang seorang teman
Tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu
Aku pun yang mendengar di telepon hanya bisa diam membisu
Aku tak berani mengeluarkan kata-kata selain bertanya “Kenapa?”
Takut kalau-kalau perkataanku membuatnya bertambah sakit
Apalagi diriku sendiri sedang dalam kondisi yang tidak baik
Setelah hampir setengah jam kudengarkan dia menangis, dia pun bercerita
“Dia membohongiku,” isaknya. “Aku sudah mengajaknya untuk bertemu kamis kemarin untuk sekedar keluar makan dan kemudian dia menolaknya dengan alasan bahwa dia ada keperluan mendadak,” setidaknya seperti itulah temanku bercerita.
Aku hanya diam mendengarkan, tidak tahu harus berkata apa
“Tapi, ternyata dia keluar bersama dengan seorang teman perempuan. Aku tahu sepertinya teman perempuan itu adalah orang yang menyukainya.”
Kali ini aku pun beranikan diri untuk berkata, “Sudah yakinkah kamu kalau dia adalah teman perempuan yang menyukai dia? Bisa saja kan, dia adalah sahabatnya, pacar temannya.”
Dia tetap meyakini bahwa teman perempuan laki-laki itu adalah perempuan yang menyukainya.
Aku mengerti sekarang.
Sepertinya kawanku ini sedang cemburu.
Cemburu karena orang yang dia cintai dekat dengan wanita lain.
Ini tidak salah, ini lumrah.
Aku pun juga pernah merasakannya.
“Kamu sedang cemburu. Berdoa saja pada Tuhan dengan sungguh-sungguh, semoga dia segera menjelaskan kesalah pahaman ini. Semoga dia segera berkata jujur pada kamu. Kamu mencintainya bukan?” tanyaku.
 “Dengar baik-baik yaa. Aku tahu kita sebagai wanita menginginkan kejujuran seorang pasangan, menurutku inilah syarat cinta. Kejujuran. Kita pasti akan merasa sakit ketika kita dibohongi. Tapi, sebenarnya bukan hanya kita, laki-laki pun juga akan seperti itu. Dia tidak suka dibohongi. Percayalah, berdoa saja kepada Tuhan. Semoga dia mengabarkan kejujurannya secepat mungkin. Jikalau pun tidak, tanyalah baik-baik.”
Temanku ini masih saja tidak terima dan dia kembali menangis tersedu-sedu.
Dia memang orang yang selalu jujur terhadap pasangannya.
Kemarin dia memintaku untuk menanyakan itu kepada pasangannya, namun kali ini aku menolak.
Aku merasa aku tidak bisa ikut campur dalam kisah percintaan mereka.
Aku hanya bisa memberikan semangat dan doa saja jika dia meminta.
Namun, untuk hal ini aku tidak bisa membantunya
Karena ini adalah dunia pribadi mereka berdua yang harus mereka selesaikan sendiri.
Aku rasa pula aku bukan orang yang tepat untuk menjadi mediator
Aku bahkan belum dewasa, kurasa

Aku tahu betapa sakit yang dirasa temanku ini
Dibohongi oleh orang yang dicintainya
Aku belajar sesuatu
Selalu ada alasan untuk seseorang berkata tidak benar, mungkin
Namun, aku tidak ingin menjadi seperti itu
Aku akan selalu berusaha berkata sejujurnya
Karena aku tidak suka dibohongi maka aku tidak mau membohongi orang
Lalu bagaimana jika suatu hari nanti orang yang kusayangi membohongiku?
Sepertinya aku harus menulis ini, agar aku ingat bagaimana aku harus bertindak
Tetap tenang dan percaya pada dia
Berdoa kepada Tuhan untuk meminta kejujurannya
Setidaknya kejadian yang dialami temanku ini membuatku sadar pula
Bahwa tidak ada manusia yang sempurna, yang bisa memuaskan keinginan kita
Lebih baik untuk memahami orang lain
perkara orang lain balik memahami kita atau tidak
itu hadiah tambahan saja dari Tuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OUR MESSAGE TO BWF: DON'T PLAY A ROLE AS A VICTIM AND PLEASE FIX YOUR SYSTEM

The controversy of the NHS and BWF decision to withdraw the Indonesian Badminton Team from participating in All England 2021 makes Indonesia...