Ini cerita
tentang seorang teman
Tiba-tiba dia
menangis tersedu-sedu
Aku pun yang
mendengar di telepon hanya bisa diam membisu
Aku tak berani
mengeluarkan kata-kata selain bertanya “Kenapa?”
Takut kalau-kalau
perkataanku membuatnya bertambah sakit
Apalagi diriku
sendiri sedang dalam kondisi yang tidak baik
Setelah hampir setengah
jam kudengarkan dia menangis, dia pun bercerita
“Dia
membohongiku,” isaknya. “Aku sudah mengajaknya untuk bertemu kamis kemarin
untuk sekedar keluar makan dan kemudian dia menolaknya dengan alasan bahwa dia
ada keperluan mendadak,” setidaknya seperti itulah temanku bercerita.
Aku hanya diam
mendengarkan, tidak tahu harus berkata apa
“Tapi, ternyata
dia keluar bersama dengan seorang teman perempuan. Aku tahu sepertinya teman
perempuan itu adalah orang yang menyukainya.”
Kali ini aku pun
beranikan diri untuk berkata, “Sudah yakinkah kamu kalau dia adalah teman
perempuan yang menyukai dia? Bisa saja kan, dia adalah sahabatnya, pacar
temannya.”
Dia tetap
meyakini bahwa teman perempuan laki-laki itu adalah perempuan yang menyukainya.
Aku mengerti
sekarang.
Sepertinya
kawanku ini sedang cemburu.
Cemburu karena
orang yang dia cintai dekat dengan wanita lain.
Ini tidak salah,
ini lumrah.
Aku pun juga
pernah merasakannya.
“Kamu sedang cemburu.
Berdoa saja pada Tuhan dengan sungguh-sungguh, semoga dia segera menjelaskan
kesalah pahaman ini. Semoga dia segera berkata jujur pada kamu. Kamu
mencintainya bukan?” tanyaku.
“Dengar baik-baik yaa. Aku tahu kita sebagai
wanita menginginkan kejujuran seorang pasangan, menurutku inilah syarat cinta.
Kejujuran. Kita pasti akan merasa sakit ketika kita dibohongi. Tapi, sebenarnya
bukan hanya kita, laki-laki pun juga akan seperti itu. Dia tidak suka
dibohongi. Percayalah, berdoa saja kepada Tuhan. Semoga dia mengabarkan
kejujurannya secepat mungkin. Jikalau pun tidak, tanyalah baik-baik.”
Temanku ini
masih saja tidak terima dan dia kembali menangis tersedu-sedu.
Dia memang orang
yang selalu jujur terhadap pasangannya.
Kemarin dia
memintaku untuk menanyakan itu kepada pasangannya, namun kali ini aku menolak.
Aku merasa aku
tidak bisa ikut campur dalam kisah percintaan mereka.
Aku hanya bisa
memberikan semangat dan doa saja jika dia meminta.
Namun, untuk hal
ini aku tidak bisa membantunya
Karena ini
adalah dunia pribadi mereka berdua yang harus mereka selesaikan sendiri.
Aku rasa pula
aku bukan orang yang tepat untuk menjadi mediator
Aku bahkan belum
dewasa, kurasa
Aku tahu betapa
sakit yang dirasa temanku ini
Dibohongi oleh
orang yang dicintainya
Aku belajar
sesuatu
Selalu ada alasan
untuk seseorang berkata tidak benar, mungkin
Namun, aku tidak
ingin menjadi seperti itu
Aku akan selalu
berusaha berkata sejujurnya
Karena aku tidak
suka dibohongi maka aku tidak mau membohongi orang
Lalu bagaimana jika
suatu hari nanti orang yang kusayangi membohongiku?
Sepertinya aku
harus menulis ini, agar aku ingat bagaimana aku harus bertindak
Tetap tenang dan
percaya pada dia
Berdoa kepada Tuhan
untuk meminta kejujurannya
Setidaknya
kejadian yang dialami temanku ini membuatku sadar pula
Bahwa tidak ada
manusia yang sempurna, yang bisa memuaskan keinginan kita
Lebih baik untuk memahami orang lain
perkara orang lain balik memahami kita atau tidak
itu hadiah tambahan saja dari Tuhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar